<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6434411120950502278</id><updated>2012-02-16T20:22:49.470+07:00</updated><title type='text'>{WALKPACKING INK}</title><subtitle type='html'>the wall i can ink my walking</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://walkpacking.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Lalu Abdul Fatah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03077556328999188462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-4mKut-E9yO4/TwhL2-AVUCI/AAAAAAAAAN0/8UwN_tYGvkI/s220/fatah.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6434411120950502278.post-2326574180571197769</id><published>2011-05-05T10:53:00.003+07:00</published><updated>2011-05-05T11:54:30.866+07:00</updated><title type='text'>Jalan Kaki, Nak!</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Medio 2006&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Malang adalah kota pertama di Pulau Jawa yang saya pijaki. Berbekal pengetahuan yang minim akan Kota Dingin itu, saya dan tiga teman lainnya naik bus dari Lombok dengan satu tujuan: melanjutkan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Agak berbeda dengan ketiga teman lainnya yang berhasil masuk perguruan tinggi negeri, saya yang tidak lulus SPMB memilih masuk di Wearnes Education Center, semacam lembaga pendidikan komputer. Lama pendidikannya hanya 1 tahun. Itu sudah termasuk magang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Sebelumnya, saya tidak pernah bermimpi kuliah di Malang sebagaimana berharap kuliah di Surabaya saat ini. Kampus impian saya tetaplah Universitas Indonesia dengan jurusan idaman, Hubungan Internasional. Sayang sekali, saya lalai belajar. Selepas hasil UN diumumkan, saya pun berkubang dalam euforia. Terlalu abai pada tingkat kesulitan soal-soal SPMB. Saya tidak ambil bimbel. Saya sibuk bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Dan, kegagalan itu benar-benar menohok. Menancap kuat, kawan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Namun, menganggur menunggu SPMB tahun berikutnya bukanlah pilihan tepat. Saya ingin kuliah, begitu tekad saya. Dan, di sinilah saya sekarang. Saya tak perlu menyesalinya. Saya harus keras pada diri sendiri. Jika tidak demikian, hidup yang sudah dan makin keras ini akan menggilas saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Malang. Di sinilah saya berada sekarang. Memulai hari-hari yang penuh adaptasi. Dengan cuaca, makanan, orang-orang, budaya, hingga suasana lingkungan berbeda. Sebagai anak yang selama 18 tahun tak pernah keluar ‘sarang’, rasa kangen benar-benar menyiksa. Meninggalkan zona nyaman membuat saya megap-megap laiknya mas koki yang kehabisan aqua. Ini risiko. Saya tak boleh lembek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Berhubung saya tidak dibekali kendaraan berupa sepeda motor, mencari kos yang dekat dengan kampus adalah keharusan. Dibantu oleh ketiga teman saya itulah, akhirnya sebuah kamar kos di Jalan Pekalongan Dalam saya dapatkan. Jaraknya tidak jauh dari kampus saya di Jalan Jakarta. Cukup berjalan kaki lima menit saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Selama setahun saya berjalan kaki dari kos ke kampus. Selama itu pula, tiap kali ke mana-mana, saya memilih jalan kaki. Ke Togamas di Dieng, saya jalan kaki. Ke Malang Town Square (Matos), saya jalan kaki. Mengunjungi teman-teman saya di daerah sekitar Brawijaya dengan jalan kaki, kadang len.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Saya pernah protes sekaligus meminta pada bapak agar dikirimkan sepeda motor. Namun, bapak tetap tidak mengizinkan dan berkilah kalau “Jawa” itu macet, sering terjadi kecelakaan. Juga, bercermin pada pengalaman kakak saya yang diberikan motor justru membuatnya lebih sering kelayapan dan kuliahnya amburadul. “Nanti kalau bapak kasih motor, Fatah sering keluar main dan nggak belajar.” Baik, saya mencoba untuk memahami kekecewaan bapak. Tak ada salahnya patuh pada orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Medio 2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Saya hijrah ke Surabaya. Masuk jurusan idaman saya, meski bukan perguruan tinggi impian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Lagi-lagi saya harus beradaptasi. Cuaca yang berbeda dengan Malang, orang-orang yang bertemperamen keras (maklum dekat pesisir), dan kehidupan kampus yang benar-benar membuat saya sedikit gegar. Persentuhan awal dengan kuliah pun membuat saya sempat merasa salah ambil jurusan. Gegar. Gegar. Gegar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Cari kos di dekat kampus. Biar hemat.” Begitu saran bapak. Saya memaklumi. Apalagi biaya hidup di kota besar memang terbilang mahal. Hingga memunculkan hobi baru pada diri saya: membanding-bandingkan harga makanan dan harga kos. Alam bawah sadar saya pun memaksa untuk lebih selektif dan tetap menjunjung tinggi prinsip ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Jarak antara kos dan kampus saya memang dekat. Tak sampai tujuh menit berjalan kaki. Meski cuaca Surabaya yang panas seringkali membuat saya mengeluh. Hingga permohonan pada bapak agar dikirimkan motor pun kerap saya layangkan. Setidaknya, saya bisa mempercepat waktu sehingga tidak kepanasan di jalan. Atau kalau pergi ke CCCL untuk kuliah bahasa Perancis, saya tidak perlu naik angkot yang rutenya memutar jauh itu. Atau kalau ingin pergi cari hiburan atau jalan-jalan ke mal, saya tak perlu memilih diam di kos karena belum mengerti jalur angkot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Susah kalau tidak ada motor, keluh saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Bapak lebih kuat lagi berargumen, “Apalagi di Surabaya, Nak. Lebih parah lagi macetnya. Kendaraan berseliweran. Fatah sering ngantuk kalau berkendaraan. Bisa kecelakaan. Di sana juga pasti rawan curanmor.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Baik, alasan keamanan motor dan keselamatan berkendaraan memang cukup masuk akal. Tapi, bapak terlalu mengada-ada kalau saya suka ngantuk saat sedang bermotor. Itu lelucon beliau yang selalu saya sangkal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Memang, sejak ibu tiada, saya berusaha untuk selalu mendengarkan petuah bapak. Untuk urusan ini pun, saya mengalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Jalan kaki dari kos ke kampus tetap saya jabani. Kalau ke CCCL, sering kali menumpang di mobil teman. Kalau tidak ada booking­-an, terpaksa naik angkot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Cuaca Surabaya pun mendukung saya untuk lebih banyak mendekam di kampus atau perpustakaan. Malamnya, di kos saja. Kos yang gerah karena belum ada kipas angin. Kalau tidak, main ke rental buku. Untung lokasinya dekat. Tak terelakkan lagi, kudu jalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;       &lt;span style="font-weight:bold;"&gt; Akhir 2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Saya pindah ke Gubeng Jaya, sebelah baratnya kampus. Kos yang lebih nyaman. Tidak segaduh dan se-me-ngantre-panjang kamar mandi kos yang lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;       &lt;span style="font-weight:bold;"&gt; Oktober 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Kali ini saya dan lima teman sejurusan sepakat untuk mengontrak rumah. Kembali saya memboyong barang-barang ke Jojoran Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Lokasinya lebih jauh dari kampus. Tapi, status saya masih sama: mahasiswa pejalan kaki. Kali ini butuh lima belas menit untuk sampai di kampus. Itu dengan ritme jalan kaki yang santai. Bakalan cepat lima menit saat Surabaya sedang ‘genit-genit’nya (baca: panas membara). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Uh, bapak benar-benar berkeras hati untuk tidak mengizinkan saya membawa sepeda motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Ah, sudahlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;         Januari 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Saya membuat blog baru yang beralamat di www.walkpacking.blogspot.com. Silakan Anda  tebak isinya, apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;          &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Februari 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Saya dan lima teman ke Jogja dalam rangka backpacking selama 4 hari. Jalan kaki dari Stasiun Lempuyangan ke hostel di sebelah selatan alun-alun. Menyeret kaki dari selatan ke utara melalui trotoar, lorong kampung, melintasi alun-alun, mencari hostel baru dekat Malioboro. Bolak-balik sepanjang Malioboro. Masuk satu toko ke toko lainnya. Juga jalan-jalan seputaran Prambanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Penat, itu sudah pasti. Apalagi kami banyak jalan kakinya.  Hingga di salah satu episode perjalanan, teman saya memutuskan untuk naik becak saja. Kapok dia diajak jalan kaki terus oleh saya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;         &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;September 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Tujuh hari saya ‘mbambung’ di luar rumah. Tanpa sedetik pun ada kontak dengan bapak, meski sekadar sms atau telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Ini menjadi jalan kaki saya yang paling intens seumur hidup. Dengan satu impian yang terus berpijar di depan saya. Menulis buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Hingga setiba di rumah dengan kulit cokelat terbakar dan bobot tubuh yang menyusut, bapak bilang, “Bapak sengaja tidak menghubungi Fatah biar konsen pada perjalanannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;      &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;  Februari 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Impian yang telah saya pendam selama enam tahun tercapai juga. Lahirlah ‘Travelicious Lombok’. Buku yang merekam perjalanan saya keliling Lombok dengan bujet yang betul-betul mengikat pinggang. Tujuh hari hanya Rp600 ribuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Apa rahasianya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Saya lebih banyak jalan kaki.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Dan, di momen itulah, ucapan-ucapan bapak berputar kembali di kepala saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Nanti kalau bapak kasih motor, Fatah sering keluar main dan nggak belajar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Cari kos di dekat kampus. Biar hemat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Apalagi di Surabaya, Nak. Lebih parah lagi macetnya. Kendaraan berseliweran. Fatah sering ngantuk kalau berkendaraan. Bisa kecelakaan. Di sana juga pasti rawan curanmor.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        “Bapak sengaja tidak menghubungi Fatah biar konsen pada perjalanannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Ya, bapak telah menggembleng saya. Bapak telah mengajarkan saya banyak hal. Bapak telah membantu mewujudkan salah satu mimpi terbesar saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Dengan caranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;N.B: Tulisan ini saya ikutkan lomba menulis blog di multiply bertema 'Hikmah' yang diadakan oleh &lt;a href="http://fauziatma.multiply.com"&gt;Oji&lt;/a&gt;. Alhamdulillah, berhasil menjadi juara 2.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6434411120950502278-2326574180571197769?l=walkpacking.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://walkpacking.blogspot.com/feeds/2326574180571197769/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2011/05/jalan-kaki-nak.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/2326574180571197769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/2326574180571197769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2011/05/jalan-kaki-nak.html' title='Jalan Kaki, Nak!'/><author><name>Lalu Abdul Fatah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03077556328999188462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-4mKut-E9yO4/TwhL2-AVUCI/AAAAAAAAAN0/8UwN_tYGvkI/s220/fatah.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6434411120950502278.post-3443677945767628415</id><published>2011-03-28T22:26:00.002+07:00</published><updated>2011-03-28T22:48:17.531+07:00</updated><title type='text'>Jalan Kaki 5 Kilometer</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-8K-51OynnCk/TZCtiBk0jWI/AAAAAAAAAMU/aAdXh8dBiaQ/s1600/Picture%2B742.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-8K-51OynnCk/TZCtiBk0jWI/AAAAAAAAAMU/aAdXh8dBiaQ/s320/Picture%2B742.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5589157937616817506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama juga saya tidak memperbarui isi blog ini. Setelah berkutat dan larut dalam euforia atas terbitnya buku saya 'Travelicious Lombok' (B-First, Februari 2011), jeratan kemalasan, dan bermain-main di dua jejaring sosial dan blog di multiply, maka baru sekaranglah saya terpikir untuk mengisi 'bensin kendaraan maya' saya ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi beberapa jam yang lalu, saya tersesat di belantara blog para &lt;span style="font-style:italic;"&gt;travel writer&lt;/span&gt;. Sebut saja, &lt;a href="http://avgustin.net"&gt;Agustinus Wibowo&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://naked-traveler.com"&gt;Trinity&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://hifatlobrain.blogspot.com"&gt;Hifatlobrain&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://matatita.multiply.com"&gt;Matatita&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="http://bacasayasaja.blogspot.com"&gt;Dwi Putri Ratnasari&lt;/a&gt;. Mau nggak mau saya 'terbakar' juga untuk tidak lama-lama membiarkan blog saya kering-kerontang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, saya ingin sedikit berbagi penggalan dari buku 'Travelicious Lombok'. Tentu saja, karena masih relevan dengan tema blog ini: jalan kaki. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;So, here we go!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Menyiksa diri? Bisa jadi. Padahal sebenarnya saya bisa naik ojek dengan membayar Rp8.000,00 dari Ancak, Karang Bajo, menuju Senaru. Senaru adalah tujuan saya berikutnya. Saya ingin menikmati sore di Air Terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep yang berada di situ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam di hp saya menunjukkan pukul 13.26. Setelah puas menjepret, saya keluar dari area Masjid Kuno Bayan Beleq dan berjalan kaki ke pertigaan Ancak. Di situ ada pangkalan ojek. Ada masjid juga. Saya hendak menunaikan shalat zuhur dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir jarak 5 kilometer tidaklah jauh. Dengan bermodal pengalaman sering jalan kaki dari kontrakan ke kampus yang hanya memakan waktu 15 menit, saya pun nekat berjalan kaki menuju Senaru. Andai saya tahu medannya seperti apa, pasti saya akan memilih naik ojek. Mengapa? Jalanan dari Ancak ke Senaru berliku-liku dan banyak tanjakannya. Dengan ransel di punggung dan sandal crocs biru yang sudah aus alasnya, saya terpaksa berhenti dan istirahat beberapa kali. Saya tidak mau patah semangat hanya gara-gara kecapekan dan jalan sendirian. Untuk mengalihkan rasa lelah, saya menangkap sebanyak-banyaknya pemandangan di sisi kiri dan kanan saya. Baik itu dengan lensa mata maupun lensa kamera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamparan sawah dan pohon-pohon di bawah saya cukup ampuh menyegarkan mata. Saya juga bertemu dengan seorang ibu yang sedang membakar pepes ikan di bawah bangunan sederhana pinggir jalan. Ketika saya tanya harganya berapa, saya menganga kaget. &lt;br /&gt;Harganya cuma seribu Rupiah! Pepes ikan berukuran cukup besar… di daerah ketinggian seperti ini? Wow! Karena ibu itu tidak sekalian menjual nasi, maka saya pun mengurungkan niat untuk membeli pepes ikannya. Padahal saya ingin sekali mencobanya. Air liur saya menetes…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terus berjalan kaki melewati rumah-rumah penduduk yang masih jarang. Kebun-kebun jambu mete yang ranum berbuah juga saya lintasi. Hingga saya melihat beberapa bocah perempuan dan seorang anak laki-laki di sebuah dangau pinggir jalan. Seorang perempuan dewasa terlihat menggalah jambu mete. Bagai sudah ditentukan, kaki saya merangsek ke arah mereka dan meminta izin duduk di situ melepaskan lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak laki-laki kelas dua SMP 3 Bayan itu bernama Rismayadi. Ia bersama lima adiknya menunggui ibu mereka yang sedang merontokkan jambu mete dengan galah. Saya ngobrol-ngobrol dengan Rismayadi. Wajah adik-adiknya terlihat antusias menyimak. Wajah-wajah yang polos dan penuh keceriaan. Terlebih ketika saya memotret mereka. Seolah-olah siap, mereka pun memasang pose yang polos dan manis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya edarkan pandangan ke sekeliling. Melihat buah jambu mete yang berserakan dan “Memang jarang kami makan,” ujar Rismayadi, saya pun meminta izin agar dibolehkan mencicipi jambu mete alias jambu monyet itu. Rismayadi mengiyakan dan langsung memanjat pohon jambu mete. Saya dipilihkan dua buah yang berwarna kuning. “Lebih manis daripada yang warna merah,” jelasnya. Dengan wajah penuh syukur, saya pun menikmati segarnya jambu mete tersebut. Satunya lagi saya selipkan di ransel. Sebagai bekal di jalan, hibur saya dalam hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengucapkan terima kasih, saya pun mengajak mereka berenam untuk berfoto-foto. Tak lupa saya tunjukkan jambu mete tersebut di depan kamera. &lt;br /&gt;Memandang senyum lugu dan binar keceriaan yang tergambar di wajah mereka, membuat semangat saya terpompa kembali. Bahkan, ketika sudah berjalan beberapa meter meninggalkan mereka, saya masih terus menengok ke belakang. Mereka memanggil dan melambai-lambaikan tangan pada saya. Sungguh mengesankan! Membuat saya merenung akan kebaikan hati manusia dan tentu saja kebaikan Tuhan… &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6434411120950502278-3443677945767628415?l=walkpacking.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://walkpacking.blogspot.com/feeds/3443677945767628415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2011/03/jalan-kaki-5-kilometer.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/3443677945767628415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/3443677945767628415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2011/03/jalan-kaki-5-kilometer.html' title='Jalan Kaki 5 Kilometer'/><author><name>Lalu Abdul Fatah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03077556328999188462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-4mKut-E9yO4/TwhL2-AVUCI/AAAAAAAAAN0/8UwN_tYGvkI/s220/fatah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-8K-51OynnCk/TZCtiBk0jWI/AAAAAAAAAMU/aAdXh8dBiaQ/s72-c/Picture%2B742.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6434411120950502278.post-791123578754444424</id><published>2011-01-13T07:42:00.003+07:00</published><updated>2011-03-28T22:25:15.248+07:00</updated><title type='text'>Telusuri Rel Kereta Api</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-jU11lcfwpKQ/TZCoDlXBMlI/AAAAAAAAAMM/RO3t0TvUAzc/s1600/23_23_53---Railway-Track_web.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-jU11lcfwpKQ/TZCoDlXBMlI/AAAAAAAAAMM/RO3t0TvUAzc/s320/23_23_53---Railway-Track_web.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5589151917088518738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rel.&lt;br /&gt;Jalur kereta api.&lt;br /&gt;Menelusurinya menyimpan kenangan tersendiri. Sebab, pernah aku lakoni sewaktu pulang dari Wonokromo ke kosku di Gubeng Jaya. Jauh??? Lumayan. Tak hitungku kilometernya. Yang pasti, bagi arek Suroboyo, bisalah membayangkan jauhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab apa aku jalan kaki di atas rel? Iseng belaka dan coba-coba. Padahal aku bisa naik angkot, tapi entah kenapa ide menelusuri rel terkesan oke. Ya, aku masih muda dan suka mencoba hal-hal baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, sehabis keluar dari rumah seorang teman di Wonokromo, aku niat jalan kaki ke Terminal Joyoboyo. *Intermezo: di terminal inilah grup musik Klantink - pemenang Indonesia Mencari Bakat - mengawali kesuksesan mereka sebagai pengamen* Sampai di sana, angkot belum ada yang hendak berangkat. Mumpung masih pagi, udara Surabaya masih bersahabat, matahari juga belum terik, aku pun memutuskan meninggalkan terminal dan mulai berjalan kaki ke arah Kebun Binatang. Menyeberangi jembatan di atasnya dan 'mengukur' trotoar ke arah Taman Bungkul. Dengan mengandalkan insting, aku pun sengaja menyesatkan diri di gang-gang kecil dengan patokan bahwa aku akan menemukan CCCL. Benar!!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyeberangi jembatan di atas Kali Darmo, terus berjalan ke timur hingga bertemu rel kereta api melintangi jalan raya. Impulsivitas pun mencuat. Ambil kiri, susuri rel kereta api. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku coba berjalan di tepian rel berbahan baja hitam. Belajar keseimbangan. Sesekali terpeleset ke kerikil. Kembali menahan keseimbangan. Tentu saja, dibarengi dengan berpikir, merenung. Hingga tecetus, aku bisa sampai di kota-kota lainnya dengan jalan kaki menelusuri rel. Entahlah, aku belum berniat untuk menjalaninya. Terbayang kaki ini akan gempor hanya untuk berjalan kaki dari Surabaya ke Malang. Malang, kota yang paling sering kudatangi dengan berkereta ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menarik berjalan di atas rel? Yang pasti, berbeda dengan jalan kaki di jalan raya, di trotoar, atau di jalan-jalan tikus tengah kampung. Apalagi rata-rata jalannya datar saja dengan aspal mulus atau semen atau paving block. Berjalan di rel kereta itu seakan kita berakrobat. That's life. Kita belajar meniti baja rel dengan penuh kesadaran arti pentingnya keseimbangan. Bahwa, sekali kita tergelincir, telapak kaki akan menjejak di serakan kerikil. Sakit. Ada dua sisi yang berdekatan satu sama lain. Yang satunya menyimpan harapan akan perjalanan yang mulus. Satunya lagi sebagai pengingat bahwa marabahaya atau kesusahan itu selalu ada. Kerikil mewakilinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah rel kereta, entah apa lagi jalur beda yang akan coba kujajaki? Ada ide?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Foto dikereta-apikan dari www.freefoto.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6434411120950502278-791123578754444424?l=walkpacking.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://walkpacking.blogspot.com/feeds/791123578754444424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2011/01/telusuri-rel-kereta-api.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/791123578754444424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/791123578754444424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2011/01/telusuri-rel-kereta-api.html' title='Telusuri Rel Kereta Api'/><author><name>Lalu Abdul Fatah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03077556328999188462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-4mKut-E9yO4/TwhL2-AVUCI/AAAAAAAAAN0/8UwN_tYGvkI/s220/fatah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-jU11lcfwpKQ/TZCoDlXBMlI/AAAAAAAAAMM/RO3t0TvUAzc/s72-c/23_23_53---Railway-Track_web.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6434411120950502278.post-6201949154679852720</id><published>2010-10-08T22:56:00.003+07:00</published><updated>2011-03-28T22:18:54.858+07:00</updated><title type='text'>7 Hari Keliling "Surga"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-GRFY3A-uGBY/TZCmwYVlO5I/AAAAAAAAAME/CBjy-G4LM54/s1600/Picture%2B956.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-GRFY3A-uGBY/TZCmwYVlO5I/AAAAAAAAAME/CBjy-G4LM54/s320/Picture%2B956.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5589150487663688594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17 - 23 September 2010...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertama kalinya, saya keliling Lombok. Seorang diri. Tujuh hari di luar rumah tanpa kontak sedetik pun dengan orang tua. Setelah pulang, barulah alasan bapak mengemuka, "Karena saya tidak ingin mengganggu Fatah. Biar fokus pada perjalanannya." Saya tersentuh dan itu salah satu ucapan bapak yang berkesan bagi saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berani keliling Lombok sendirian karena terpengaruh oleh buku-buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;traveling&lt;/span&gt; yang sejak tiga tahun lalu hingga sekarang menjadi santapan incaran saya. Saya terinspirasi oleh para penulis yang sekaligus pejalan itu. Mulai dari Marina Silvia K., Imazahra, Gola Gong, Andrea Hirata, Agustinus Wibowo, Trinity, Mata Tita, hingga Fadel Mohammad, dan penulis buku-buku panduan traveling lainnya seperti Sihmanto dan Rini Raharjanti. Merekalah yang selama ini menyuntikkan 'obat' agar saya melangkah keluar dari kamar yang nyaman. Berjalan-jalan. Menjelajah. Mencari 'sesuatu' di luar teks yang lebih dominan saya tekuni. Mengalami secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga, saya berkesempatan menghabiskan liburan semester di kampung halaman: Lombok. Bertemu sanak saudara, teman-teman. Bermain-main dan pergi berlibur dengan kawan-kawan yang datang dari Surabaya. Menghabiskan 19 hari magang di Lombok Post. Berpuasa sebulan penuh di Lombok (kesempatan yang langka selama 4 tahun saya kuliah di Tanah Jawa). Dan, seminggu setelah lebaran, saya pun mulai mengarungi Lombok: tanah kelahiran saya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak penuh jalan kaki. Karena saya juga dalam rangka bikin buku panduan jalan-jalan. Ditantang oleh seorang editor penerbit yang memang sedang giat-giatnya menerbitkan buku panduan jalan-jalan hemat. Berbekal modal Rp 600 Ribu, saya mulaikan perjalanan mengesankan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar empat kilometer, masih bisa saya tempuh dengan jalan kaki. Tapi, sebisa mungkin saya juga tidak terlalu 'menyiksa' diri. Kalau memang ongkos kendaraannya murah, saya naiki. Meski terkadang, untuk makan, saya sedikit ber'ikat pinggang'. Pengeluaran saya paling banyak untuk penginapan. Andaikan ini jalan-jalan yang bersifat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;backpacking suka-suka&lt;/span&gt;, saya mungkin mengusahakan untuk tidur di, katakanlah: rumah penduduk atau tempat ibadah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik, ini sekadar uneg-uneg saja. Sebelum saya melanjutkan kembali menulis buku saya tersebut. Doakan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6434411120950502278-6201949154679852720?l=walkpacking.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://walkpacking.blogspot.com/feeds/6201949154679852720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/10/7-hari-keliling-surga.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/6201949154679852720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/6201949154679852720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/10/7-hari-keliling-surga.html' title='7 Hari Keliling &quot;Surga&quot;'/><author><name>Lalu Abdul Fatah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03077556328999188462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-4mKut-E9yO4/TwhL2-AVUCI/AAAAAAAAAN0/8UwN_tYGvkI/s220/fatah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-GRFY3A-uGBY/TZCmwYVlO5I/AAAAAAAAAME/CBjy-G4LM54/s72-c/Picture%2B956.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6434411120950502278.post-7199121686405342489</id><published>2010-06-16T11:18:00.003+07:00</published><updated>2010-06-16T11:39:27.118+07:00</updated><title type='text'>Inspirasi Jalan Kaki dari Sepuh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/TBhUsZ6oMSI/AAAAAAAAALg/vWbvOA34FY0/s1600/GrandPa.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 190px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/TBhUsZ6oMSI/AAAAAAAAALg/vWbvOA34FY0/s320/GrandPa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5483225668171346210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Allah memang telah menggariskan semuanya. Tak ada yang namanya kebetulan. Diksi kita saja yang seringkali mengatakan, “Kebetulan aku lagi di sana…”, “Waktu itu aku lagi jalan sama dia. Kebetulan ada seseorang lewat…”, “Kebetulan dia yang mengajariku aritmatika saat SMP dulu…” dan berbagai kebetulan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya sedang belajar untuk tidak mempercayai yang namanya kebetulan. Selalu ada alasan di balik semua kejadian. Kalau kau tidak menemukan alasannya, berharap saja untuk memungut hikmahnya. Setidaknya, itulah inti tulisan saya kali ini. Tentu saja, tetap dalam konteks berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada hari Rabu, 9 Juni 2010, menjelang siang, saya ke Perpustakaan Pusat Kampus B. Berselancar maya di Ruang Publik lantai 1. Sekalian membaca-baca buku ‘Jerome Becomes A Genius’ karya Eran Katz. Saat masuk, saya sempatkan diri menengok papan informasi dan menemukan pamflet ‘Bincang Siang Bersama Wartawan Republika’. Saya sedikit abai, sebenarnya. Mengingat nanti sorenya ada kuliah Afrika dan berselancar maya saya memang bertujuan untuk mencari bahan bacaan mengenai topik yang akan dibahas. Tapi, bukan Fatah namanya jika tidak cukup impulsif dan bergegas mengikuti kata hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Acara yang menghadirkan Asep K. Nur Zaman – Pimpinan Perwakilan Republika untuk Jawa Timur – tersebut pun saya putuskan untuk mengikutinya. Ada beberapa alasan. Pertama, melihat antusiasme mahasiswa di Ruang Publik yang kurang terhadap acara tersebut. Mereka lebih asyik internetan juga diskusi – atau ngobrol nggak jelas? Kedua, saya pada dasarnya tertarik pada dunia jurnalistik dan bercita-cita menjadi seorang jurnalis, kelak jika lulus dari HI. Maka, acara semacam ini jelas cocok buat saya. Apalagi diadakan gratis, dapat sertifikat pula. Ketiga, saya waktu itu mengenakan kaos putih berkerah biru pemberian VOA Indonesia. Jadi, tepat sekali atmosfernya. Jurnalisme! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah menunaikan shalat zuhur, pukul satu siang lebih sedikit, saya segera mengambil posisi lesehan paling depan. Persis di depan Pak Asep. Saat itu, hanya dua atau tiga gelintir mahasiswa saja yang saya temukan di meja sebelah saya. Padahal, saat mengisi lembaran registrasi, ada lebih dari lima belas orang yang mencatutkan namanya. Nyatanya, yang hadir hanya segelintir orang saja. Saya kurang tahu, apakah mereka yang bergerombol di meja-meja belakang juga adalah partisipan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Baik, saya tidak akan berpanjang lebar mengenai isi bincang siang yang berdurasi satu jam tersebut. Namun, saya mendapatkan banyak ilmu, terlebih lagi mengenai koran nasional berbasis Islam tersebut. Mengenai sejarah pendiriannya, tawaran magang di Kantor Republika Perwakilan Jawa Timur, seluk-beluk profesi wartawan, kiat-kiat menjadi wartawan, dan sebagainya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nah, di akhir sesi, Pak Asep menjelaskan salah satu tips menjadi wartawan adalah selalu belajar pada senior. Beliau menyebutkan nama satu wartawan sepuh di Republika, yakni Pak Alwi Shihab. Pak Alwi ini berusia 90 tahun. Hingga saat ini – tuturan Pak Asep – beliau masih segar bugar, masih setia bertahan menjadi wartawan (penulis). Resepnya adalah “Beliau waktu muda suka jalan kaki. Kota Batavia telah dijelajahinya, masuk gang keluar gang. Beliau bahkan hafal gang mana yang tetap seperti sediakala, mana yang telah diubah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sewaktu mendengar tuturan itu, saya terkesiap dan tersenyum bangga  dalam hati. Bukankah saya memiliki satu kebiasaan yang sama dengan Pak Alwi Shihab? Saya pun berdoa semoga senantiasa sehat hingga usia tua nanti. Dan, tentu saja istiqomah dalam menulis. Amin Ya Robbal ‘Alamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lihatlah. Saya tidak pernah berencana mengikuti bincang siang itu. Namun, saya yakin Allah menuntun saya ke perpustakaan. Menuntun saya melihat pamflet informasi bincang siang tersebut. Memantapkan hati saya untuk duduk manis dan bertanya-tanya antusias perihal dunia jurnalistik. Dan, siapa sangka jika saya akan mendapatkan informasi mengenai Alwi Shihab yang semenjak muda senang jalan-jalan kaki? Lalu, saya menuliskannya di blog ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*ilustrasi diboyong dari http://images.francisfrith.com/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6434411120950502278-7199121686405342489?l=walkpacking.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://walkpacking.blogspot.com/feeds/7199121686405342489/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/06/inspirasi-jalan-kaki-dari-sepuh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/7199121686405342489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/7199121686405342489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/06/inspirasi-jalan-kaki-dari-sepuh.html' title='Inspirasi Jalan Kaki dari Sepuh'/><author><name>Lalu Abdul Fatah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03077556328999188462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-4mKut-E9yO4/TwhL2-AVUCI/AAAAAAAAAN0/8UwN_tYGvkI/s220/fatah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/TBhUsZ6oMSI/AAAAAAAAALg/vWbvOA34FY0/s72-c/GrandPa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6434411120950502278.post-2852922024285995922</id><published>2010-06-09T11:34:00.003+07:00</published><updated>2010-06-09T11:53:11.242+07:00</updated><title type='text'>Wanna Be More Than A Walkpacker</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/TA8clD_gDxI/AAAAAAAAALY/f6xlGGKlPu0/s1600/CIMG3075.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/TA8clD_gDxI/AAAAAAAAALY/f6xlGGKlPu0/s320/CIMG3075.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5480630694585569042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebagai permulaan, blog ini memang khusus aku dedikasikan untuk diriku sendiri – sang pejalan kaki. Pejalan kaki yang bukan sekadar memiliki makna harfiah, namun lebih dari itu. Pejalan ‘kaki’ kehidupan. Aku tahu, ini terlalu filosofis. Tapi, aku tak akan menolak kefilosofisan itu. Bukan berarti aku bangga karena suka memikirkan sesuatu yang agak berat. Ini hanyalah menifesto bersyukurku atas pemberian Tuhan yang bernama pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Blog yang berisi sekumpulan catatan, renungan, entahlah namanya. Remeh-temeh kelihatannya sekilas. Jalan kaki. Apa yang menarik dari aktivitas keseharian itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku tak menyanggah kalau aku juga ingin melakukan perjalanan kaki yang lebih dari ‘biasa’nya. Aku ingin seperti Agustinus Wibowo – yang dijuluki &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Explorer&lt;/span&gt; – dalam bukunya ‘Selimut Debu’. Aku ingin seperti Mbak Imazahra, seorang kawan di jagad &lt;span style="font-style:italic;"&gt;blogoshpere&lt;/span&gt;, yang menginspirasiku dengan keberaniannya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;backpacking&lt;/span&gt; ke berbagai negara (beberapa hari yang lalu, dia baru saja balik dari Afrika). Aku juga ingin mencicipi – kalau bisa menapaktilasi perjalanan sutera seorang Marcopolo. Aku ingin merasakan petualangan perjalanan Trinity, Gola Gong, Marina Sylvia, Diah Marsidi, Andrea Hirata, Tony Wheler, dan semua pejalan yang namanya tidak kuingat – tercantum di sampul depan sebuah buku ataupun terpendam di lembaran-lembaran buku bertema petualangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku akan menjadi salah satu di antara mereka. Aku akan menorehkan namaku di situ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku tahu kalau aku sedikit menyimpan iri pada Jamal, Dinda, Maria, juga Rani – keempat kawanku seangkatan di HI yang sedang dan sudah pasti akan berangkat ke luar negeri. Aku juga sempat ‘panas’ ketika mengetahui informasi bahwa salah satu adik kelasku di SMA yang kini berkuliah di HI UI, telah sempat menapaki Taiwan beberapa waktu yang lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bahwa yang harus aku sadari adalah: kesempatan itu belum datang padaku. Masalah mereka lebih pintar dan berprestasi alias di atas rata-rata, aku harus mengakui hal itu. Namun, bukan berarti pejuang mimpi sepertiku juga tidak bisa seperti mereka. Ini hanyalah masalah waktu dan usaha saja. Aku perlu menerapkan kata-kata mantra yang diucapkan oleh salah satu penulis favoritku, Ahmad Fuadi, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Going the extra miles!&lt;/span&gt;” AKU PERLU MELAKUKAN SESUATU DI ATAS RATA-RATA!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku sedang memotivasi diri. Sah-sah saja, bukan? Di saat aku ingin menggapai sesuatu dan merasa diriku belum berbuat maksimal, maka satu-satunya cara adalah melakukan sesuatu lebih keras. Karena aku ingin menjelajahi dunia, maka aku tidak boleh berpuas diri hanya sekadar menjadi pejalan kaki biasa. Semua orang telah melakukan itu. Nah, tinggal bagaimana caranya aku bisa menggunakan kedua kakiku ini untuk melakukan sesuatu yang tidak seperti biasanya. Tidak menapakkan kaki di rute yang biasanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku harus berani keluar dari zona nyaman! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku tidak boleh berpuas menjadi pejalan kaki biasa! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Karena ketika aku sudah berpuas, maka segalanya akan kandas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kandas berarti diam berarti mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tidakkah kau marah pada dirimu saat itu terjadi?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6434411120950502278-2852922024285995922?l=walkpacking.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://walkpacking.blogspot.com/feeds/2852922024285995922/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/06/wanna-be-more-than-walkpacker.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/2852922024285995922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/2852922024285995922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/06/wanna-be-more-than-walkpacker.html' title='Wanna Be More Than A Walkpacker'/><author><name>Lalu Abdul Fatah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03077556328999188462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-4mKut-E9yO4/TwhL2-AVUCI/AAAAAAAAAN0/8UwN_tYGvkI/s220/fatah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/TA8clD_gDxI/AAAAAAAAALY/f6xlGGKlPu0/s72-c/CIMG3075.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6434411120950502278.post-1264216265963659835</id><published>2010-05-26T21:33:00.005+07:00</published><updated>2010-05-26T22:14:35.944+07:00</updated><title type='text'>Kenapa Kamu Jalan Kaki?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:8KMUbitLQ52NGM:http://www.made-in-england.org/images/CDT-walking.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 128px; height: 88px;" src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:8KMUbitLQ52NGM:http://www.made-in-england.org/images/CDT-walking.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lama juga tak menapakkan kaki di blog ini. Menuliskan sesuatu yang terkait dengan berjalan kaki. Tak ingin blog ini jadi pajangan semata tanpa diisi dengan sesuatu yang berharga, maka saya pun mencoba meneteskan pikiran kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu basa-basi lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman kontrakan saya seringkali heran dengan ritual jalan kaki saya. Tak sekadar terlihat dari ekspresi wajah, tapi juga lontaran kata-kata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu habis dari mana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gramedia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pakai apa ke sana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jalan kaki."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu lho ada motor. Kenapa nggak dipakai?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau sebentuk percakapan seperti berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa kamu nggak bilang untuk dijemput?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mau jalan kaki."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bro, aku berangkat dulu, ya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini lho pakai motorku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak usah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mau jalan kaki saja. Ok? I'm okay, bro!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi, saya orang yang termasuk seganan. Jika saya bisa lakukan sendiri, akan saya lakukan. Itu pula yang menyebabkan saya berani berkuliah di tanah seberang. Sebab, saya punya keyakinan, saya bisa mandiri. Bukan suatu hal yang perlu dibanggakan. Biasa saja. Meski sempat seorang teman perempuan yang menunjukkan binar kekagumannya pada kemandirian saya. Bagi saya, mandiri adalah keniscayaan. Tentu, bukan untuk menyombongkan diri bahwa saya tidak butuh orang lain. Namun, percayalah, mandiri akan membuat otak Anda selalu bekerja. Anda 'dipaksa' untuk memikirkan cara dan alternatif ini itu. Untuk kasus saya, saya menyukainya. Kalau Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lainnya adalah... saya ingin belajar mensyukuri karunia Allah yang terlimpahkan dalam hidup saya. Apa itu? Kaki. Seringkali saat berjalan kaki pulang dari kampus menuju kontrakan, atau dari kontrakan ke toko buku, saya bersyukur karena masih diberikan kaki yang sehat dan kuat. Saat mata saya bertumbuk pada loper koran di lampu merah Manyar yang kakinya cacat, saya membisiki diri saya, "Alhamdulillah... Aku masih punya kaki yang normal." Bukan untuk 'bahagia' di atas penderitaan orang lain, namun seringkali kita tersadar atas sesuatu setelah menemukan pembandingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, saya juga belajar menyayangi bumi. Saya belajar banyak di kelas tentang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;global warming&lt;/span&gt;. Pemanasan global yang salah satunya diakibatkan oleh akumulasi karbondioksida di atmosfer. Penyumbang karbon ini, kalau bukan asap pabrik, paling banyak adalah asap kendaraan bermotor. Nah, saya belajar untuk mengurangi penggunaan sepeda motor. Well, tentu saja, di kala kepepet, saya bisa saja meminjam sepeda motor teman. Atau jika lokasi yang ingin saya tuju letaknya jauh dan ke sananya di siang hari yang terik a la Kota Surabaya. Namun, setidaknya, dengan berjalan kaki, saya bisa mengurangi sumbangan karbon yang menyiksa bumi kita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, bukankah jalan kaki itu juga menyehatkan???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski badan saya kurus dan tetap suka berjalan, saya tak risau akan hal itu. Yang penting, saya sehat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Gambar dicungkil dari www.wallgau.de*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6434411120950502278-1264216265963659835?l=walkpacking.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://walkpacking.blogspot.com/feeds/1264216265963659835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/05/kenapa-kamu-jalan-kaki.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/1264216265963659835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/1264216265963659835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/05/kenapa-kamu-jalan-kaki.html' title='Kenapa Kamu Jalan Kaki?'/><author><name>Lalu Abdul Fatah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03077556328999188462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-4mKut-E9yO4/TwhL2-AVUCI/AAAAAAAAAN0/8UwN_tYGvkI/s220/fatah.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6434411120950502278.post-8822633000499624904</id><published>2010-03-18T22:58:00.005+07:00</published><updated>2010-03-18T23:24:54.354+07:00</updated><title type='text'>Kala Berjalan, Saya Biasanya...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S6JS5lmSgoI/AAAAAAAAALQ/ICKKVEwn198/s1600-h/walk.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 292px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S6JS5lmSgoI/AAAAAAAAALQ/ICKKVEwn198/s320/walk.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450009648370451074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya beruntung punya dua kaki. Saya masih bisa menggunakannya untuk berjalan. Hingga ketika saya terkadang mengeluh harus berjalan kaki cukup jauh di siang terik - atau harus berjalan di malam hari dengan kondisi tubuh capek - saya bisa kembali mengingat kata-kata saya tersebut. Untung masih punya kaki. Bisa ke mana-mana dengan bebas. Bayangkan mereka yang tidak punya. Sungguh, nikmat Tuhan manakah yang hendak kita dustakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulit saya memang menjadi semakin 'manis' kelihatannya. Meski peluh jadi teman, tak apalah. Itu bukti bahwa saya masih sehat. Saya bisa berkeringat. Metabolisme tubuh saya berjalan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, terkait dengan judul di atas, apa yang biasanya saya lakukan saat berjalan kaki? Banyak! Apalagi kalau dirunut satu per satu secara mendetil. Namun, saya hanya akan menyebutkan beberapa aktivitas yang paling sering saya lakukan. Ini dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menengok kiri-kanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Istilahnya 'nggak banget' ya? Hehehe... Menengok kiri-kanan ini, kurang lebih maknanya adalah cuci mata. Tentu saja, selama di jalanan, akan banyak pemandangan yang saya temukan. Meski terkadang rute yang saya lalui itu-itu saja - terutama kampus-kontrakan - namun, tidak selalu sama pemandangan yang saya lihat. Rumah-rumah penduduk memang terlihat sama dari hari ke hari. Akan tetapi, orang-orang yang saya jumpai di jalananlah yang berbeda. Sekaligus pemandangan, juga referensi pengamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Menarik napas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini juga sebenarnya kriteria yang tak begitu penting diungkap. Sudah pastilah, saya berjalan sambil bernapas. Akan sangat mengherankan jika saya berjalan tanpa bernapas. Apa komentar orang-orang??? Hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Bernyanyi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Inilah kegiatan yang sering saya lakukan. Bersenandung, bahkan teriak-teriak bernyanyi. Saya memanfaatkan bising kendaraan di sekitar saya untuk menyalurkan bakat menyanyi saya itu. Kok bisa? Bisa saja! Apalagi kalau misalnya saya menyanyikan lagu-lagu bernada tinggi, saya terbantu sekali oleh suara kendaraan yang ramai hingar-bingar. Suara saya tersamarkan. Saya bisa mencapai oktaf tertinggi, sekemampuan saya. Itu sebuah pencapaian. Arena bernyanyi gratis yang cukup menyenangkan. Hahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Mengamati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tak afdol jika berjalan kaki tanpa mengamati. Kira-kira samalah dengan poin pertama. Namun, mengamati ini saya lakukan sekaligus riset manusia. Tindak-tanduk manusia. Saya bisa tertawa-tawa sendiri saat menyaksikan orang berpolah lucu. Saya pun bisa merenung - mensyukuri hidup - saat melihat orang bernasib di bawah saya. Saya bisa berpikir tentang masa depan, masa lalu, bersemangat meraih ilmu, mengenang orang-orang yang pernah mampir dalam hidup saya - hanya gara-gara mengamati orang-orang dan pemandangan yang saya amati di jalanan. Dengan berjalan kaki, saya pun memiliki jeda agak lama untuk memikirkan hal tersebut. Sebuah hal yang jarang bisa dilakukan oleh orang-orang yang selalu dikejar oleh kesibukan dan waktu. Saya ingin menikmati hidup. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm... Apalagi ya? Kalau Anda, bagaimana? Sekiranya bisa berbagi di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*gambar diculik dari http://www.biosphere-expeditions.org*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6434411120950502278-8822633000499624904?l=walkpacking.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://walkpacking.blogspot.com/feeds/8822633000499624904/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/03/what-am-i-doing-when-walking.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/8822633000499624904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/8822633000499624904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/03/what-am-i-doing-when-walking.html' title='Kala Berjalan, Saya Biasanya...'/><author><name>Lalu Abdul Fatah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03077556328999188462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-4mKut-E9yO4/TwhL2-AVUCI/AAAAAAAAAN0/8UwN_tYGvkI/s220/fatah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S6JS5lmSgoI/AAAAAAAAALQ/ICKKVEwn198/s72-c/walk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6434411120950502278.post-1947746805093363250</id><published>2010-03-03T20:42:00.002+07:00</published><updated>2010-03-03T20:49:07.039+07:00</updated><title type='text'>Renungan Pejalan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S45oqYvDirI/AAAAAAAAALI/m97mxP8rMYk/s1600-h/backpackers.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 248px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S45oqYvDirI/AAAAAAAAALI/m97mxP8rMYk/s320/backpackers.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444404076941118130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian orang, pohon hanyalah makhluk pasif yang hanya mengenal sepi. Tetapi bagi pejalan-pejalan kaki jenis tadi, pohon adalah wakil-wakil suara keikhlasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi banyak orang, bintang di malam hari tidak lebih dari tanda tiadanya sinar matahari. Namun bagi soul traveler, ia hanyalah cara sang maha tinggi untuk menyelimuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kebanyakan orang, sungai tidak berkata-kata apa pun. Namun bagi pencinta-pencinta kepekaan, ia adalah guru kekuatan tak tertandingi yang bernama kelenturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi tidak sedikit manusia, batu hanyalah benda mati yang tidak peduli. Tapi bagi sahabat-sahabat kejernihan, ia adalah lambang kekuatan dan daya tahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sejumlah orang, gunung tinggi hanyalah fenomena alam yang teramat biasa. Namun, bagi pemberani-pemberani di atas pikiran ini, ia adalah guru kebijaksanaan yang senantiasa berbisik: bila gunungnya tinggim jurangnya juga dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kehidupan sejumlah orang biasa, setiap tarikan napas hanyalah gerakan-gerakan tubuh yang memperpanjang eksistensi. Bagi pencinta-pencinta kejernihan, setiap tarikan napas adalah rangkaian keajaiban. Disebut keajaiban, karena bernapas adalah kegiatan terpenting dan pada saat yang sama dilakukan secara free of charge, gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Gede Prama; Jalan-Jalan Penuh Keindahana; hal. 125-126) &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*gambar ditarik dari http://travelhouseuk.wordpress.com*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6434411120950502278-1947746805093363250?l=walkpacking.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://walkpacking.blogspot.com/feeds/1947746805093363250/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/03/renungan-pejalan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/1947746805093363250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/1947746805093363250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/03/renungan-pejalan.html' title='Renungan Pejalan'/><author><name>Lalu Abdul Fatah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03077556328999188462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-4mKut-E9yO4/TwhL2-AVUCI/AAAAAAAAAN0/8UwN_tYGvkI/s220/fatah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S45oqYvDirI/AAAAAAAAALI/m97mxP8rMYk/s72-c/backpackers.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6434411120950502278.post-7232375025450123247</id><published>2010-03-01T11:56:00.004+07:00</published><updated>2010-03-01T12:34:05.343+07:00</updated><title type='text'>Pejalan dan Penampilan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S4tRoxYCnOI/AAAAAAAAALA/WpDs4sswqkw/s1600-h/Bek.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 170px; height: 127px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S4tRoxYCnOI/AAAAAAAAALA/WpDs4sswqkw/s320/Bek.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5443534335498165474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Karena sewaktu bersekolah dasar saya terbiasa jalan kaki dari dan ke rumah, maka bukan suatu keheranan jika rambut saya menjadi sedikit memerah dan kulit yang agak kecokelatan. Tidak sampai gosong. Namun, cukup membuat saya menjadi tidak percaya diri dengan keelokan tubuh yang telah Tuhan anugerahkan. Minder pada anak-anak yang lebih tampan, seperti itulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ketika di SMP, ada teman yang iseng atau memang sengaja melontarkan tanya. "Tah, rambutmu dicat, ya? Pakai air keras, gitu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya nyengir saja. Bisa dibilang, itu pertanyaan yang agak menohok. Entah kawan itu sengaja ingin memalukan saya ataukah karena memang dia tidak tahu. Tapi, kecurigaan saya lebih menjurus pada: MEREKA SENGAJA. MENGEJEK PENAMPILAN SAYA YANG TERBILAS DAN TERGILAS SINAR MATAHARI TERLALU SERING.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan mereka itu pada dasarnya juga berakar dari sosok salah satu kakak laki-laki saya. Inisialnya, J. Kakak saya tersebut cukup terkenal di kalangan anak muda di kota kecil kami karena kebengalannya. Bengal? Pergaulannya memang dengan anak-anak yang suka balapan liar dan memreteli motornya hingga nampak aneh. Ada pengejaran pretise bagi dirinya di komunitas tersebut. Mungkin pula sebagai bentuk berontaknya pada aturan dalam keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, selain hobi balap dan teman-teman SMP saya cukup banyak yang sehobi dengannya, dia juga pernah mengecat rambutnya. Di dalam masyarakat kami, anak yang bercat rambut, entah kuning, merah, apalagi warna-warna ngejreng lainnya, diidentikkan sebagai anak nakal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah identik dengan anak nakal dan saya kebetulan adiknya, maka saya pun dikira nakal. Itu pun prasangka saya terhadap komentar teman-teman, tidak seratus persen benar. Sebab, mereka tahu sendiri kalau saya termasuk anak yang pendiam, rajin belajar, dan manutan. Cuma, penampilan luar sedikit menipu. Rambut di bagian depan agak kemerah-merahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh! Bukan karena sengaja aku cat. Aku bukan tipe seperti itu. Justru, aku sangat tidak percaya diri dengan tampilan rambut seperti itu. Aku lebih suka berpenampilan alami. Sederhana. Bersahaja, kalau bisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu juga gara-gara intensitasku yang lumayan tinggi terpapar oleh sinar matahari. Sejak kecil suka bermain-main di luar. Sawah, jalanan, sungai. Penampilan yang tidak kujaga itu pun tentu saja melekat, terbawa sampai SMP. Sampai aku sadar untuk merawat rambutku sehingga pernah memakai sampo yang khasiatnya untuk menghitamkan rambut. Tak berhasuil. Tak ada efeknya. Keinginan menghitamkan rambut justru menimbulkan efek lain. Rambutku menjadi kusut. Keritingnya semakin ikal. "Kalau lalat dimasukin ke rambutmu, pasti bakal tersesat!" goda teman saya. Saya pun tertawa. Meringis, tepatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari demi hari berlalu. Di SMA, saya sempat alergi jalan. Sebab, ada motor pemberian orang tua. Ke sekolah, ke rumah kawan, dan ke mana-mana, menjadi lebih sering dengan motor. Saya agak terawat, secara alamiah. Berjaket juga menjadi lebih sering. Biar tidak kena angin. Biar tidak tersengat terik matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMA lewat. Masa kuliah pun tiba. Dan, seperti sebuah siklus. Saya justru menjadi lebih suka berada di bawah tiupan matahari. Agak tidak hirau pada kesehatan kulit, mungkin iya. Namun, di sisi lain, saya merasa kembali menemukan kenikmatan dengan anugerah yang dilimpahkan Tuhan melalui matahari, angin, bintang, rembulan, dan kawan-kawannya. Dan, seakan-akan, saya rela untuk berada di bawah terik mentari. Ada semangat pejalan yang muncul di situ. Semangat meresapi dan berkawan dengan alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejalan dan penampilan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinkronkan saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*gambar diculik dari www.gettyimages.com*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6434411120950502278-7232375025450123247?l=walkpacking.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://walkpacking.blogspot.com/feeds/7232375025450123247/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/03/pejalan-dan-penampilan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/7232375025450123247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/7232375025450123247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/03/pejalan-dan-penampilan.html' title='Pejalan dan Penampilan'/><author><name>Lalu Abdul Fatah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03077556328999188462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-4mKut-E9yO4/TwhL2-AVUCI/AAAAAAAAAN0/8UwN_tYGvkI/s220/fatah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S4tRoxYCnOI/AAAAAAAAALA/WpDs4sswqkw/s72-c/Bek.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6434411120950502278.post-4262492890128243283</id><published>2010-02-21T22:43:00.001+07:00</published><updated>2010-02-21T22:50:30.790+07:00</updated><title type='text'>[Puisi] Novel Sebiji, Snack Segenggam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S4FWH8Zj4CI/AAAAAAAAAK4/tJSJ8H1msys/s1600-h/pejalan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S4FWH8Zj4CI/AAAAAAAAAK4/tJSJ8H1msys/s320/pejalan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5440724519312678946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan,&lt;br /&gt;mengikuti arus malam,&lt;br /&gt;di pundak tersampir jaket hitam,&lt;br /&gt;tertenteng di tangan kanan,&lt;br /&gt;sebuah helm berisi &lt;br /&gt;novel sebiji,&lt;br /&gt;snack segenggam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bentara elit perumahan,&lt;br /&gt;kuputuskan menyesatkan diri,&lt;br /&gt;membiarkan langkahku menyusuri,&lt;br /&gt;hingga dua anjing tertarik menggonggongku,&lt;br /&gt;merengsek ingin merobek pagar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku takut galaknya anjing.&lt;br /&gt;Bukan anjing galak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keringat mulai terbubuh di punggung,&lt;br /&gt;kaosku basah,&lt;br /&gt;padahal sepoi angin menerpa,&lt;br /&gt;ingin halau gerah.&lt;br /&gt;Takkan bisa, pikirku.&lt;br /&gt;Sebab, pentol-pentol bakso kepala sapi,&lt;br /&gt;yang kumakan setengah jam yang lalu,&lt;br /&gt;sedang terolah menjadi energi,&lt;br /&gt;oleh gerakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuberjalan di sisi sungai, kini.&lt;br /&gt;Jika ke kontrakanku,&lt;br /&gt;tinggal seberangi jembatan itu!&lt;br /&gt;Namun, aku memilih melewatinya.&lt;br /&gt;Terus mengukur jalanan kampung&lt;br /&gt;(bukan elit perumahan lagi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menuju warung.&lt;br /&gt;Warung internet.&lt;br /&gt;Mengeposkan ketikanku di ponsel ini&lt;br /&gt;ke blog-ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*gambar diangkut dari http://whitemonkeynewsbureau.wordpress.com/ *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6434411120950502278-4262492890128243283?l=walkpacking.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://walkpacking.blogspot.com/feeds/4262492890128243283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/02/puisi-novel-sebiji-snack-segenggam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/4262492890128243283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/4262492890128243283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/02/puisi-novel-sebiji-snack-segenggam.html' title='[Puisi] Novel Sebiji, Snack Segenggam'/><author><name>Lalu Abdul Fatah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03077556328999188462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-4mKut-E9yO4/TwhL2-AVUCI/AAAAAAAAAN0/8UwN_tYGvkI/s220/fatah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S4FWH8Zj4CI/AAAAAAAAAK4/tJSJ8H1msys/s72-c/pejalan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6434411120950502278.post-7594276195214572157</id><published>2010-02-10T22:44:00.005+07:00</published><updated>2010-02-10T22:59:00.628+07:00</updated><title type='text'>Mengejar Toko Buku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S3LWBq_KIEI/AAAAAAAAAKw/FCJ8e_-q4AI/s1600-h/Paris.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 270px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S3LWBq_KIEI/AAAAAAAAAKw/FCJ8e_-q4AI/s320/Paris.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436643024397017154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Saya&lt;/span&gt; pernah berjalan ‘cukup’ jauh pada malam hari hanya untuk mengincar sebuah toko buku. Apa istimewanya toko buku tersebut? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jadi, sekitar bulan Desember 2009, saya mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Jakarta. Dalam rangka penyerahan hadiah lomba karya tulis bidang kearsipan yang diadakan oleh Arsip Nasional RI. Lokasi acara adalah Jakarta Selatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sementara itu, saya baru sadar kalau toko buku yang selama ini saya ‘baca’ gaungnya di dunia maya ternyata ada di Jakarta Selatan. Saya tidak sengaja menemukannya ketika berada di dalam taksi menuju Blok M, saya tidak sengaja menengok ke arah kiri dan mata saya bersirobok dengan plang MP Book Point. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; MP Book Point?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Waaaah… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya langsung berseru pada dua teman – sesama pemenang karya tulis -   yang duduk di belakang saya. Tapi, mereka tidak begitu hirau. Sepertinya tidak begitu antusias – bahkan bisa jadi – belum mendengar MP Book Point.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Karena tujuan kami bukan ke situ, sehingga saya pun menancapkan janji untuk ke toko buku tersebut sebelum hengkang dari Jakarta!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mulailah saya memutar balik ingatan saya mengenai rute yang telah kami tempuh sejak naik taksi hingga lewat di depan MP Book Point. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Well&lt;/span&gt;, tidak terlalu jauh. Apalagi kalau dari depan ANRI. Bisa ditempuh dengan jalan kaki, desis saya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keesokan harinya, tepatnya sehabis Isya, saya pun keluar dari penginapan. Sendirian saja. Sebab, tiga teman penginapan saya telah berangkat pulang ke daerah masing-masing, yakni Purwokerto dan Jombang. Saya sendiri berencana pulang ke Surabaya dua hari berikutnya. Sebab, saya masih ada sejumlah agenda, di antaranya: menonton film Sang Pemimpi dan kopdar dengan teman multiply. Mengunjungi MP Book Point juga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya mengisi perut dulu di sebuah warung kemudian mulai menyemburkan radar saya, menelisik alur yang sekiranya akan saya tempuh. Saya memerhatikan angkot yang melalui jalan yang memang dilalui oleh taksi kami pada malam sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Perjalanan kaki saya pun dimulai – untuk sebenar-benarnya mencari keberadaan MP Book Point. Saya hanya perlu mengikuti insting dan peta jalan yang tergambar di dalam kepala saya. Taksi imajiner yang kemarin saya tumpangi mulai berjalan pelan-pelan di memori saya seiring derap langkah kaki saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Awalnya, saya menyusuri jalan tak bertrotoar. Cukup tipis jarak badan saya dengan mikrolet yang melintas. Sebab itu, sesekali saya menoleh ke belakang, memastikan antara mikrolet dan saya berjarak aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di ruas jalan yang bertrotoar, saya pun tidak menyia-nyiakan ‘nyawa’ saya. Mencari posisi yang aman dengan mematuhi aturan bagi pejalan kaki. Tas kain cangklong warna putih makin saya kepitkan. Isinya sebuah handycam. Saya berniat memotret eksterior dan interior serta sudut-sudut menarik lainnya dari MP Book Point. Sepatu pantofel hitam – pinjaman dari teman kontrakan – pun saya derapkan di trotoar. Serasa saya seorang turis yang menikmati jalan-jalan kakinya sekalipun itu menyusuri jejalanan raya yang mungkin pada siang harinya sungguh melelehkan minat dan memanaskan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya terus jalan. Ketika menemukan persimpangan, saya menuruti kata hati untuk memilih belok kanan. Ya, sesuai jalur mikrolet. Di kiri kanan jalan yang saya lalui, bukan pemandangan ruwet nan padat yang saya temukan – seperti yang selama ini disematkan pada ibukota. Beberapa rumah masih ‘memeluk’ pepohonan dan bebungaan. Saya bahkan sempat terkesima sejenak pada sebuah rumah yang memiliki toko bunga di depannya. Ada kesegaran mencuat di situ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tengok jam di ponsel. Mendekati pukul delapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa lama lagi ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar lagi. Pasti sebentar lagi. Begitu hibur saya pada diri sendiri.&lt;br /&gt;Becek-becek tanah di pinggir jalan akibat hujan tadi siang yang masih menyisakan gerimis, beberapa kali hampir menjebak sepatu saya. Karena tidak sepanjang jalan diterangi sinar lampu, baik lampu merkuri ataupun neon yang terpasang di depan rumah penduduk, saya pun berusaha untuk menajamkan mata agar kaki sebisa mungkin menjejak &lt;br /&gt;di atas material yang padat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak menjumpai gemintang di atas kepala saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan, saya melihat tanjakan. Hmmm… MP Book Point pasti berada di balik tanjakan itu, pikir saya. Sugesti pada diri sendiri itu membuat saya makin bersemangat. Dari langkah-langkah biasa menjadi lari-lari kecil. Saya sudah bersiap sedia untuk senang beberapa saat lagi. Senang karena akan menemui surga buku. Senang karena toko buku yang cukup terkenal itu – paling tidak, terkenal di dunia maya – akan saya hampiri, masuki, dan eksplorasi tiap sudutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang senang bermain di toko buku. Laksana menemukan rumah kedua. Di beberapa kota yang pernah saya singgahi, saya senantiasa menyempatkan diri mengunjungi toko bukunya. Gramedia Botani Square di Bogor; Togamas, Tisera,  Gramedia, dan Wilis di Malang; penyewaan buku di Pare, Kediri; Togamas, Gramedia, Karisma, Blauran, serta toko buku Manyar di Surabaya; dan sekarang MP Book Point di Jakarta. Beberapa minggu kemudian, ketika berkesempatan jalan-jalan ke Jogjakarta, saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatn ke Gramedia Malioboro Mall dan Shopping (nama pusat buku murah) dekat Taman Pintar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, saya harus menahan kesabaran sedikit lagi ketika menjumpai MP Book Point masih berjarak puluhan meter lagi dari puncak tanjakan yang saya pijaki. Dari seorang teman, saya mendapat informasi kalau toko buku tersebut buka sampai jam 9 malam. Berarti, saya hanya memunyai sekitar 1 jam untuk menjelajahi toko buku tersebut. Saya makin mempercepat langkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa meter, akhirnya, mata saya bersitatap dengan kotak neon MP Book Point. Saya tersenyum lega, tentu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Handy-cam&lt;/span&gt; pun saya keluarkan dan mulai mengambil gambar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya senang. Senang sekali. Hasrat saya mengunjungi ‘rumah kedua’ tercapai juga. Ditambah lagi kesenangan pada siang harinya di mana saya menerima hadiah uang. Bisa saya pakai belanja buku! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 9 tepat, saya pun keluar dari MP Book Point. Dua buku ‘tebal’ telah berhasil saya ‘gondol’. Saya meledak. Senang. Meskipun harus kembali berjalan kaki lebih satu kilometer. Menuju penginapan. Dan tidur pulas dengan senyum tersungging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*gambar disabet dari www.projectwomen.com*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6434411120950502278-7594276195214572157?l=walkpacking.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://walkpacking.blogspot.com/feeds/7594276195214572157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/02/mengejar-toko-buku.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/7594276195214572157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/7594276195214572157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/02/mengejar-toko-buku.html' title='Mengejar Toko Buku'/><author><name>Lalu Abdul Fatah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03077556328999188462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-4mKut-E9yO4/TwhL2-AVUCI/AAAAAAAAAN0/8UwN_tYGvkI/s220/fatah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S3LWBq_KIEI/AAAAAAAAAKw/FCJ8e_-q4AI/s72-c/Paris.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6434411120950502278.post-6370481139035662953</id><published>2010-01-25T22:06:00.005+07:00</published><updated>2010-01-25T22:37:41.761+07:00</updated><title type='text'>Walking in the Rain</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S121vZJe4WI/AAAAAAAAAKQ/L7H-vrSXM_8/s1600-h/walking+in+the+rain.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 316px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S121vZJe4WI/AAAAAAAAAKQ/L7H-vrSXM_8/s320/walking+in+the+rain.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430696551487824226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I&lt;/span&gt; felt stranger when I used a set of raincoat and walked in the rain from my boarding house to college.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Is it sound peculiar?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hahaha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indeed. This afternoon felt different for me. I’m like one of seven sleepers who had just woke up from my so-long-sleeping. Yeah, because, more than 12 hours I spent in my boarding house without going out. I wake up so late this morning. Then, washed my laundries and prepare my noodle-breakfast. Oh, I found no rice in the jar. Damnit!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;But, I have to thanks to God due to His blessing for me. I’m still alive! I’m still breathing. I’m still able to hear, see, and taste. It’s really enough, isn’it?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Well, I think this intro is too long to tell.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;I want to jump to the main topic as the title of this blog. Walkpacking-point-of-view.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Some messages came into inbox. It’s from my college friend, Hariyono. He told me my METAN mark. Alhamdulillah, I got “B”. I was really happy for that. It is not so bad, I think. Only Rani in my class who got “A”. Jamal, the smartest student I so-far-known was just got “AB”. Oh, you know what? METAN is the most difficult subject I faced in this odd semester. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Then we talked about SUSI application forms. Yeah, surely I had completed all of requirements needed. Though, I still was waiting for recommendation letter from my Dean, Mr. I Basis Susilo, but I thought I had to send the application today. I don’t want to wait till tomorrow. Because, I felt bored to go to college everyday in this holidays time.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“I will go to college at 3 p.m.” I said to Hariyono.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Why?” He asked.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“I don’t want to be captivated by free-internet-access in college that made me has to be sitting down for long hours. I also am reading my books!”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;After praying ashar, I fulfilled my promise to come to the college. I saw the sky was so cloudy. “Well, it is gonna be heavy rain!” I said to myself. “But, hey! I have to go to college. I need free-internet-access. I want to check some of my accounts. And, the most pivotal thing is sending my application form!” Hahaha…&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;I knew that my laugh is unreasonable. Several seconds later, I heard the “tik-tik-tik” of rain’s sounds at the roof of my boarding house. I immediately looked for an umbrella, but I didn’t. “Yes, I have to go!” I yelled to myself.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;So, I took raincoat that hung up in the wall.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;I wore it and felt it was fit for my skinny body. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;And I started to walk in the heavy rain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Some children who were playing in path way-front of their houses, looked at me with peculiar sight. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;When I passed them, I know one of them was following my steps. I did not want to turned my body back. Yeah, I thought that child was just do it for fun. Meanwhile, when I passed in front of some adults I found in the way, I did not want to see them. Yeah, I could felt the strange-sight-seeing from them. So, I did not need to look at them back. I straight to walk and walk in the rain with my blue and gray raincoat and also my blue-plastic sandals. Hehehe… They were totally match!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;I walked and walked while enjoying the rain. It was not heavy anymore. So, I don’t need to be trapped in a very wet condition. Some drops of the rain spotted to my face. I enjoyed its freshnes.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Truly, when people looked at me, I felt I wore a miss-costume. I also felt not comfortable, actually. Furthermore, my side-bag seemed swollen in my right side of my skinny body. Oh… really, I did not ready to be famous! Hahaha…&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;But, I made myself tougher and tougher. And when I saw some men and women wore such-kind-of same raincoat, I felt more OK. Yeah, I have twins! Hahaha…  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;15 minutes then, I arrived at my college.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;But, the problem relate to my confidence was not finished yet.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;So, I immediately walked to behind of Building D of FISIP and took off my raincoat and put it into the red plastic bag I have prepared from boarding house.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yes, finally my problem is finish!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now, I can breathe comfortably!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*picture is taken from http://trackmixes.blogspot.com/*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6434411120950502278-6370481139035662953?l=walkpacking.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://walkpacking.blogspot.com/feeds/6370481139035662953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/01/walking-in-rain.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/6370481139035662953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/6370481139035662953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/01/walking-in-rain.html' title='Walking in the Rain'/><author><name>Lalu Abdul Fatah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03077556328999188462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-4mKut-E9yO4/TwhL2-AVUCI/AAAAAAAAAN0/8UwN_tYGvkI/s220/fatah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S121vZJe4WI/AAAAAAAAAKQ/L7H-vrSXM_8/s72-c/walking+in+the+rain.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6434411120950502278.post-2353116460560742193</id><published>2010-01-23T02:07:00.007+07:00</published><updated>2010-01-25T22:37:12.210+07:00</updated><title type='text'>Flash Back</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S123C-c7A0I/AAAAAAAAAKY/nJHDtUfi-us/s1600-h/back.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S123C-c7A0I/AAAAAAAAAKY/nJHDtUfi-us/s320/back.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430697987430613826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I'm&lt;/span&gt; trying and still learning write in English. So, if in the midst of my writing you find something disturb you or make you nod your head, just please apologize me :) I will never know my English writing skill until trying it. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Here, I will tell you several of my walkpacking experiences. I will write them just like flash back and brief stories, so here we go...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I started seriously (?) walking when I had just been in junior high school. At that time, I had to walk about more than 1 km from home to my school, SMPN 1 Selong. Actually, my older brothers can deliver me by motorcycle, but yeah...my relation with them was just like ice. Frozen. I also wanted to prove that I was enough independent to go to school by myself. Though, when I arrived at home in the daylight's end (I school at noon), I used to have dinner first and got sleep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I did this more than one year. Yet, it was not fully like that. Sometimes, if I felt I would be late, I asked my big bro to deliver me. Hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Second, I did serious walkpacking when I have just accepted to study in Malang, a cool city in East Java. I didn't bring my motorcycle from Lombok. It caused by so many consideration. One of them was because I was newbie in Malang. I still did not know many aspects about Malang. So, it made me take decision to stay near from my small campus in Jalan Pekalongan Dalam. So, I just need 5-7 minutes to walk there.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*well, I have to skip my note because the library keeper command me to stop netting* hehehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alright, after many hours I have been hibernating myself at my private room, now I would like to continue this note.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;During I had been in Malang, I used to go everywhere on foot. But, if the destination is far enough, I used public transportation which called "LYN". While, for some of my favorite place, such as Malang Town Square, Brawijaya University (just looked around there), or my very lovely book store: Togamas in Dieng, I used to walk. Not only to save my money that I used to buy food or books, but also I wanted to enjoy my journey. It surely could erased my crowded mind which fulled by courses at my campus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeah, I think my experience in walking when I was in Malang was not as interesting as in Surabaya. Why? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I will tell it in another time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, I'm leaving now.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks for reading.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'm happy if you're not mind to leave comments here.... :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*picture is taken from http://www.clker.com/clipart-9664.html*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6434411120950502278-2353116460560742193?l=walkpacking.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://walkpacking.blogspot.com/feeds/2353116460560742193/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/01/flash-back.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/2353116460560742193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/2353116460560742193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/01/flash-back.html' title='Flash Back'/><author><name>Lalu Abdul Fatah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03077556328999188462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-4mKut-E9yO4/TwhL2-AVUCI/AAAAAAAAAN0/8UwN_tYGvkI/s220/fatah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S123C-c7A0I/AAAAAAAAAKY/nJHDtUfi-us/s72-c/back.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6434411120950502278.post-1489960794656385392</id><published>2010-01-22T21:57:00.002+07:00</published><updated>2010-01-25T22:35:51.184+07:00</updated><title type='text'>Kenapa Walkpacking?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S123uN4zJ5I/AAAAAAAAAKg/PVM6KYkIte4/s1600-h/walking.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 252px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S123uN4zJ5I/AAAAAAAAAKg/PVM6KYkIte4/s320/walking.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430698730308446098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Istilah&lt;/span&gt; yang baru kita dengar atau baca, seringkali membuat kening berkerut dan bertanya-tanya, "Ini artinya, apa?" atau "Maksudnya?". Namun, bagi Anda yang gemar bermain kata, mencoba menerka sebuah istilah baru, sungguh mengasyikkan. Nah, kalau begitu, bisa Anda artikan kan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;walkpacking&lt;/span&gt; itu, apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang suka &lt;span style="font-style:italic;"&gt;traveling&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;backpacking&lt;/span&gt; pasti sudah bisa menemukan artinya. Yup, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;walkpacking&lt;/span&gt; merupakan gabungan dari dua kata: 'walk' dan 'packing'. Walk berarti, berjalan. Packing berarti, menyiapkan barang-barang di tas. Singkatnya, walkpacking artinya berjalan-jalan (kaki) dengan bawaan. Halah. Kacau nih interpretasi saya. Hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membedakannya dengan backpacking, apa? Ada dong! Kalau backpacking, biasanya bepergian ke suatu tempat (biasanya situs wisata) dengan ciri-ciri: ransel di punggung, bisa jalan kaki atau dengan kendaraan umum tertentu asalkan ekonomis, dan biasanya sih murah meriah. Backpacking sedang jadi 'demam' sekarang. Ngetren. Tengok saja buku-buku yang mengisahkan para backpacker yang sekarang punya rak khusus sendiri di toko-toko buku. Setelah itu, muncul gelombang orang-orang yang juga ingin melakukan backpacking. Termasuk saya! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, karena hingga saat ini, jejak rekam backpacking saya masih belum begitu banyak, maka penamaan itu pun saya ganti dengan walkpacking. Mengapa? Sebab, saya lebih sering melakukan aktivitas ini. Berjalan kaki, bukan untuk ke situs-situs wisata, melainkan terkadang untuk sesuatu yang tidak jelas. Ya, sekadar berjalan kaki saja. Saya pun sepertinya perlu berterima kasih pada Hariyono, teman saya, yang telah menginspirasi dengan membuat istilah ini :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa walkpacking?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karen saya suka jalan-jalan (kaki). Seperti yang telah saya jelaskan pada tulisan sebelumnya. Saya menyukai aktivitas ini dengan 'terpaksa' sejak kuliah di Tanah Jawa. Kok, bisa? Ya, karena saya memang tidak diberikan izin oleh bapak untuk membawa sepeda motor. Bisa saja saya memaksa sehingga hati bapak luluh dan izin pun keluar. Tapi, saya mulai berpikir ulang mengenai resiko, biaya, sampai akhirnya pada pertimbangan lingkungan (lebih tepatnya, isu pemanasan global). Akhirnya, saya pun tidak 'ngebet' agar dikirimkan sepeda motor. Justru, saya ingin bersepeda ontel saya. Hingga menunggu dana terkumpul, ya...cukup berjalan kaki saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa walkpacking?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena saya punya dua kaki yang ingin saya manfaatkan seoptimal mungkin. Saya baru saja teringat untuk menuliskan alasan ini. Namun, sebelum-sebelumnya, ketika saya terserang penyakit malas berjalan (terlebih lagi, malas olahraga) sehingga bergantung pada keberadaan sepeda motor, saya pun berpikir, lama-lama saya tidak akan kuat berjalan. Apalagi karena saya memang memendam cita-cita untuk keliling dunia. Nah, jikalau saya tidak melatih kedua kaki saya untuk berjalan lebih aktif lagi, bisa saja saya akan cepat kelelahan hanya untuk menempuh jarak 2 km. Itu ingin saya hindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa walkpacking?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kegiatan murah meriah. Berjalan kaki. Aktivitas yang remeh kelihatannya, tapi sempat membuat saya bangga oleh iklan sebuah susu formula di televisi. Berjalan kaki 1.000 langkah bisa mengurangi resiko terkena osteoporosis. Yup!!! Saya ingin mencegah hal itu terjadi pada saya, meskipun resiko terbesarnya menyerang perempuan. Tidak ada salahnya. Apalagi ini tidak berbayar. Hanya capek saja? Ya, tapi kan bisa diganti dengan men-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;charge&lt;/span&gt; lewat asupan makanan dan minuman. Kalau misalnya Anda malas berlari-lari atau melakukan kegiatan di gym, berjalan kaki di sekitar kompleks perumahan bisa menjadi solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa walkpacking?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda punya alasan sendiri? &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Feel free to share here&lt;/span&gt;! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*gambar dicomot dari http://www.newscientist.com/*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6434411120950502278-1489960794656385392?l=walkpacking.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://walkpacking.blogspot.com/feeds/1489960794656385392/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/01/kenapa-walkpacking.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/1489960794656385392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/1489960794656385392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/01/kenapa-walkpacking.html' title='Kenapa Walkpacking?'/><author><name>Lalu Abdul Fatah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03077556328999188462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-4mKut-E9yO4/TwhL2-AVUCI/AAAAAAAAAN0/8UwN_tYGvkI/s220/fatah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S123uN4zJ5I/AAAAAAAAAKg/PVM6KYkIte4/s72-c/walking.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6434411120950502278.post-7640736073116910975</id><published>2010-01-21T16:48:00.002+07:00</published><updated>2010-01-25T22:36:46.236+07:00</updated><title type='text'>Tinta Pejalan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S126A4Uvw9I/AAAAAAAAAKo/punBgFb0kCY/s1600-h/long-road-home-ally-benbrook.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 238px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S126A4Uvw9I/AAAAAAAAAKo/punBgFb0kCY/s320/long-road-home-ally-benbrook.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430701249960854482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Saya&lt;/span&gt; sengaja membuat blog ini. Khusus untuk menampung catatan perjalanan saya. Yeah, saya memang gandrung jalan-jalan. Meski terkadang, harus menunggu momen tertentu untuk melakukan itu. Sebab, saya juga pecinta ruangan. Apalagi jika telah dibekuk oleh tumpukan buku-buku. Maka, saya pun tertawan, duduk, atau tiduran. Namun, itu juga ampuh membuat semangat saya untuk berjalan-jalan. Mencari angin segar, mencari hingar-bingar, mencari pemandangan yang berbeda, mengusir kebosanan, juga menangkap inspirasi yang berkeliaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, tidak semua catatan dalam blog ini akan memuat perjalanan saya yang istimewa. Istimewa dalam artian, perjalanan dengan menggunakan pesawat atau transportasi kelas eksekutif. Namun, saya mencoba menangkap renik-renik, meski itu sekadar berjalan kaki. Mungkin berjalan kaki dari kontrakan ke kampus, berjalan kaki dari kampus ke stasiun, atau berjalan kaki masuk gang keluar gang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Sebab, perjalanan adalah proses, bukan tujuan...&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Nah, dalam proses itu, saya yakin akan banyak hal menarik yang bisa saya dapatkan. Mungkin sehelai inspirasi yang tiba-tiba melayang tatkala saya memandangi titik air yang jatuh dari pinggiran atap rumah penduduk. Mungkin pula sentilan peristiwa masa lalu yang bisa menguatkan saya dalam menghadapi masalah saya saat ini. Atau saya bisa bernostalgia saat melihat anak-anak kecil bermain riang sepanjang gang. Saya anggap itu anugerah. Pemberian yang tak ternilai. Mungkin terlihat sepele, namun saya akan mencoba terus menggalinya lebih dalam lagi. Bukankah, seringkali hal sepele itu jika disepelekan, justru akan menjerumuskan? Nah, sebelum terjerumus, tidak ada salahnya untuk mengikat maknanya dan menggunakannya untuk membebaskan kita dari beragam belenggu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga percaya pada adagium 'verba volent scripta manent', bahwa tulisan itu akan lebih mengabadi daripada sekadar ucapan lewat mulut. Tulisan juga harta karun yang dengan pasti bisa saya wariskan pada anak cucu saya. Saya tak bisa menjamin harta kekayaan yang melimpah ruah. Sebaliknya, saya memiliki harta berupa tulisan yang bisa saja digali untuk mendapatkan materi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, kembali memulai perjalanan khusus itu melalui blog 'walkpacking ink' ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*gambar dipungut dari http://fineartamerica.com*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6434411120950502278-7640736073116910975?l=walkpacking.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://walkpacking.blogspot.com/feeds/7640736073116910975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/01/tinta-pejalan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/7640736073116910975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6434411120950502278/posts/default/7640736073116910975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://walkpacking.blogspot.com/2010/01/tinta-pejalan.html' title='Tinta Pejalan'/><author><name>Lalu Abdul Fatah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03077556328999188462</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-4mKut-E9yO4/TwhL2-AVUCI/AAAAAAAAAN0/8UwN_tYGvkI/s220/fatah.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_hzubMewXEjI/S126A4Uvw9I/AAAAAAAAAKo/punBgFb0kCY/s72-c/long-road-home-ally-benbrook.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
