Sabtu, 20 September 2014

Banteng Belaga Jerami Rebaq



(Sumber: Wikipedia)

            “Jokowi pencitraan! Dia cuma capres boneka! Sebenarnya yang mau jadi presiden itu siapa sih? Jokowi apa Megawati?”
            “Kebayang nggak kalo Indonesia dipimpin Prabowo? Rakyat bakal dibodoh-bodohi! Aktivitas diculik. Orang yang protes akan ditangkap. Kita nggak bakal bisa ngomong sebebas ini.”
            Baca berita di halaman media online dan baca komentar-komentarnya deh! Pasti akrab dengan kalimat-kalimat di atas. Belum lagi di grup-grup diskusi di Facebook, misalnya. Atau, bahkan status teman-teman di media sosial.
            Bulan-bulan menjelang Pemilu 9 Juli, kita dibombardir oleh berita-berita tentang capres. Pascapemilu pun sama. Beritanya masih santer. Orang-orang pun berlomba-lomba jadi juru kampanye. Perang di media sosial, khususnya, tak bisa dihindari. Panas rasanya. Padahal kita cuma menghadapi layar ponsel, tablet, atau laptop. Tapi, emosi ini bergejolak. Orang-orang turun tangan melakukan perang maya (cyber war). Masing-masing menyuarakan opininya.
            Kalau jeli mengamati, banyak bermunculan situs berita abal-abal. Mereka terang-terangan mendukung salah satu calon presiden. Nada pemberitaannya pun terkesan sadis. Menjelek-jelekkan kubu lawan. Tanpa jadi ahli atau pengamat media pun, orang awam bisa merasakan nada keberpihakan itu.
            Para pendukung calon presiden tertentu akan mencari dan menyebarluaskan berita-berita yang menjelek-jelekkan lawan. Pendukung lawang pun akan berusaha untuk menanggapi balik dengan menghadirkan informasi yang diambil dari situs berita atau blog pribadi. Hawa panas benar-benar tak terhindarkan.
            Akibatnya bisa ditebak. Orang-orang saling bermusuhan. Gerah dengan status-status tendensius teman di media sosial, seseorang sampai meng-unfriend atau meng-unfollow temannya untuk sementara. “Daripada ikut emosi?” Demikian alasannya.
            Ada orang-orang yang kedamaiannya terusik. Ia menyamankan dirinya dengan cara itu.
            Tapi, ada juga yang malah bersemangat untuk mengobarkan kampanye negatif bahkan kampanye hitam di tengah-tengah jagad maya. Itu dilakukan terang-terangan sekalipun oleh para figur publik, entah itu penulis, wartawan senior, akademisi, juga artis. Yang penting mereka bersuara. Menyuarakan apa yang mereka yakini sebagai kebenaran. Padahal banyak yang cuma bermodal tautan berita online tanpa berusaha untuk skeptis, kritis, dan melakukan kroscek.
            Media memang ampuh untuk membentuk opini masyarakat. Itulah sebab mengapa media dimanfaatkan oleh para politisi untuk memuluskan ambisi kekuasaan mereka. Media yang dibayar itu pun akan membuat berbagai pemberitaan yang mengangkat ‘sponsor’ mereka sekaligus menjegal langkah lawan. Maka, berita-berita dengan nada tendensius pun berseliweran di laman media sosial kita.
            Akibatnya apa? Masyarakat kita yang belum benar-benar melek media, belum terliterasi dengan baik, akhirnya terpecah-belah. Alih-alih berdiskusi dengan pikiran terbuka, yang muncul malahan komentar-komentar emosional. Pada awalnya kawan, bisa-bisa jadi lawan. Hanya gara-gara Pemilu. Amat menyedihkan!
            Hal ini mengingatkan saya pada peribahasa Sasak, bahasa yang saya pakai sehari-hari di rumah, “Banteng belaga jerami rebaq”. Terjemahan bebasnya adalah banteng yang berlaga di tengah-tengah sawah menyebabkan jerami rebah dan patah. Secara maknawiah, peribahasa itu merujuk pada para politisi yang berkontestasi dan cenderung menyebabkan orang-orang di bawah mereka sebagai korban.
Dalam konteks ini, banteng mewakili politisi. Jerami adalah rakyat. Para politisi berlaga, rakyat yang menderita dan sengsara. Rakyat menderita secara psikisi. Mereka bingung, emosional, marah, sedih, campur aduk jadi satu.
            Alih-alih berkompetisi secara sehat, elegan, dan cerdas sehingga memberikan pendidikan politik bagi rakyat. Ini tidak. Para politisi lewat sepak terjang mereka di media menunjukkan cara berpolitik yang tidak anggun dan mencerdaskan rakyat.
            Banteng belaga jerami rebaq ini yang jadi kalimat bijak di kalangan masyarakat Sasak, Lombok, tak hanya cocok merefleksikan apa yang terjadi belakangan ini di pentas nasional. Tapi, dalam lingkup sosial apa pun, kita akan mudah menemukannya. Di keluarga, perselisihan orangtua, misalnya. Di kantor, konflik antarmanajer, misalnya. Di organisasi, perselisihan antarketua divisi, contohnya. Di sidang PBB, perselisihan antarkepala negara, contohnya.
            Peribahasa ini kiranya bisa menjadi refleksi bagi para politis pun pemimpin. Mereka sebagai banteng sebenarnya punya pilihan untuk menjadi banteng seperti apa. Apakah tetap berlaga di sawah berjerami dan menginjak-injaknya ataukah mencari arena lain yang cuma berumput saja atau tanah kosong sama sekali? Biar tak ada korban?
            Hidup itu bukan pilihan. Hidup itu memilih. Kelak ketika Anda ditakdirkan di posisi banteng, arena laga seperti apa yang Anda pakai? Bagaimana cara Anda berlaga?  
 Pilihan-pilihan terbentang. Tinggal Anda hendak memilih yang mana. Termasuk memilih kearifan lokal yang terkandung dalam budaya dan bahasa daerah kita masing-masing.   
 



*Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati


Senin, 22 Juli 2013

[BodrexJuaranyaCepat] Lewat Demam dan Sakit Kepala, Berbagi pada Sesama

Puntiran Sakit

Rabu pagi (17/07) saya terbangun dengan badan yang rasanya tak enak. Agak meriang. 

Saya segera mengingat-ingat apa yang saya lakukan tadi malam. Tidur jelang pukul 1 pagi dan bangun kisaran pukul 3 untuk sahur. Sahur pun hanya dengan air putih - yang sudah saya lakoni selama seminggu berpuasa. Lantas, saya lanjut tidur hanya dengan mengenakan kaus oblong dan celana tiga perempat. Diserbu nyamuk pula! Komplet!

Tanpa menganalisis lebih jauh penyebab meriang yang saya rasakan, segeralah saya ke kamar mandi. Sebab, pagi itu juga saya punya janji untuk bertemu teman-teman SMA saya di Bandara Djuanda, Surabaya. Mereka yang kuliah di Jogja dan Semarang itu akan pulang ke Lombok dan saya hendak menitip buku-buku saya untuk orang rumah.

Byur!!! 

Air mengguyur badan saya. Pegal di badan tak saya hiraukan. Suhu tubuh yang meningkat dari biasanya, saya lawan. Tak eloklah bertemu teman dengan kondisi kusut masai, pucat pasi. Harus terlihat segar. 

Sekitar pukul 09.25 WIB, saya pun berangkat dari kontrakan. Tak lupa kenakan jaket karena jam segitu cuaca Surabaya sudah menunjukkan wajah aslinya. Panas. Saya sedikit menyesal tidak meminjam helm teman yang full-face. Wajah kena angin saja, sudah bikin tak enak. Apalagi saat berada di belakang kendaraan dengan asap dari knalpot yang menyeruak. Saya cuma bisa mengembuskan atau menahan untuk tidak ambil napas.

Tiga puluh menit kemudian, sampailah saya di bandara. Langsung melepas kangen dengan teman-teman SMA saya. Ngobrol banyak hal, dari ujung timur ke ujung barat. Kendati saya merasakan suhu tubuh saya kian meningkat, tenggorokan saya agak sakit saat bicara, dan suara yang sampai di telinga saya tidak begitu jernih - karena otak saya juga mulai tidak konsentrasi - tetapi saya tetap antusias menyimak dan menimpali. 

Hingga selepas salat zuhur, kami berbincang kembali. Mulailah saya merasakan mata saya berkunang-kunang dan memanas. Duduk saya mulai tak bisa tegak, tubuh lemas. Sementara suhu di ruang terbuka bandara kian terasa panasnya. Antara dehidrasi dan memang sudah ada indikasi saya sakit, seakan-akan berkolaborasi. 

Lelah. Otak saya sudah tidak bisa diajak lagi berpikir jernih.

Saya pun meminta izin pada teman-teman saya untuk istirahat di bangku tunggu. Saya ingin menyenderkan kepala. Berniat tidur sejenak sementara pesawat mereka akan take off sejam lagi. 

Kembali saya kenakan jaket. Lalu coba pejamkan mata. Andai bangku kosongnya lebih panjang, saya ingin rebahan saja. Demam, sakit kepala, mata berkunang-kunang, nyeri di bagian selangkangan sebelah kanan. Itulah yang saya rasakan.

Di saat sedang berusaha mengosongkan pikiran dan meniadakan suara-suara ramai di bandara, teman-teman saya justru menyegerakan untuk masuk counter check in. Saya iyakan. Niat mereka baik malah, saya kira. Mereka ingin agar saya segera istirahat.

Kami pun berpisah. 

Saya merasa tak kuat untuk segera balik ke kontrakan. Apalagi cuaca benar-benar lagi terik. Saya putuskan untuk tiduran sejenak di bangku tunggu. Kali ini posisi rebahan, kaki agak tertekuk, biar pengunjung bandara lainnya masih tetap bisa duduk. 

Saya hanya bisa tidur-tidur ayam. Sembari tetap mensugesti diri bahwa saya akan baik-baik saja. Jangan sampai saya lemas - atau parahnya, pingsan - di bandara. Saya ke sini sendirian. 

Ya, saya hanya perlu mengecas ulang energi dengan cara begini. Tidur sejenak. 

Asar tiba, saya salat dulu di bandara. Saya kira, saya masih kuat berjalan. Sambil menakar-nakar kemampuan diri, saya pun memutuskan untuk pulang saja. Daripada saya berlama-lama di tengah keriuhan bandara, mending saya segera istirahat di kontrakan. Meskipun sempat terlintas hal-hal tidak mengenakkan yang mungkin saja terjadi di jalan, tapi saya menguatkan diri. 

Saya harus bisa bertahan sampai tiba di kontrakan!

***

Dua Hari, Empat Tablet, Sembuh! 

Pukul 4 sore. Saya sudah semakin dekat dengan kontrakan. Namun, di otak saya telah terpasang alarm untuk sekalian beli ransum berbuka puasa plus obat! 

Saya pun mampir di sebuah minimarket. Di depannya ada beberapa stan makanan dan minuman. Saya langsung menghampiri stan jus yang juga menyediakan sup serta salad buah. Saya pesan salad buah.

Bodrex isi 20 tablet (Sumber: dokpri)

Di minimarket, saya membeli roti, susu, minuman penyegar kalengan, dan Bodrex. Saya memilih Bodrex karena tertulis di kotaknya "Meringankan SAKIT KEPALA, SAKIT GIGI dan menurunkan DEMAM" yang sangat pas dengan gejala yang saya alami saat itu (minus sakit gigi, tentu). Selain itu, saya ingin mencoba keampuhan Bodrex dibandingkan dengan obat merk lain yang biasanya saya konsumsi jika terkena gejala seperti di atas. 

Setelah membayar semua, meluncurlah saya ke kontrakan. Suhu badan mungkin sudah di atas 35 derajat celcius. Otak saya berdenyut-denyut. 

Berganti pakaian, saya melesat ke kamar mandi. Air seni saya panas sekali. Saya sendiri kaget. Astaghfirullah...

Dalam kondisi sudah berwudu, sambil menunggu azan magrib berkumandang, saya rebahan di kamar. Berusaha memejamkan mata dan mengistirahatkan otak.

Saya hanya sempat lelap sejenak ketika akhirnya waktu berbuka tiba. Alhamdulillah...  

Karena perut dalam kondisi benar-benar kosong, saya tidak langsung minum obat. Saya isi dulu dengan salad buah. 

Sejam kemudian saya makan nasi. Ini atas anjuran teman. "Makan nasi dulu biar ada tenaganya, Mas." 

Hanya empat tablet Bodrex yang saya konsumsi  (Sumber: dokpri)

 Barulah 2 dari 20 tablet Bodrex saya telan. 

Dari secarik kertas petunjuk yang ada di dalam kotak Bodrex, saya mengetahui kalau tiap tablet lapis dua mengandung 600 mg parasetamol dan 50 mg kofein. Jika parasetamol saya sudah mafhum, tapi kofein? Apa fungsinya dalam Bodrex?
 
Ya, parasetamol berfungsi sebagai analgesik untuk meredam rasa nyeri, dari yang ringan sampai sedang, termasuk sakit kepala dan sakit gigi. Ia juga berfungsi sebagai antipiretik yang dapat mengurangi demam dengan cara mempengaruhi hipotalamus, bagian otak yang mengatur suhu tubuh.

Ternyata, kofein pun memiliki efek analgesik yang secara sinergis ketika dikombinasikan dengan analgesik lain. Penggunaan kofein meningkatkan kemampuan analgetik dan memungkinkan pemakaian 40% dosis yang lebih rendah dengan efek meredakan nyeri.

Dan, efek dari mengonsumsi Bodrex adalah panas tubuh saya kian meninggi, lantas berkeringat. Saya kira, sahur pun saya kudu mengonsumsinya, ternyata saya terlewat. Saya cuma minum air putih saja dan kembali istirahat. 

Maka, pada Kamis itu, saya masih tergolek lemas di atas kasur tipis saya. Siangnya, saya rasakan kembali gejala yang sama dengan hari sebelumnya. Di dalam hati saya berkata, "Minum dua tablet Bodrex saja sepertinya belum mempan. Harus bersabar sampai magrib lagi..."

Dan, Kamis malamnya, saya mengonsumsi roti, minuman penyegar, dan kembali menelan dua tablet Bodrex. Lalu, saya istirahat kembali. Suasana kamar yang sengaja di'steril'kan dari keramaian, cukup membantu menenangkan otak saya.

Kamis malam itulah saya benar-benar merasakan efek yang lebih besar dari Bodrex. Keringat saya jauh lebih banyak keluar daripada malam sebelumnya. Saya tetap memakai baju, jaket, celana training, juga berselimut dengan sarung. Sengaja. Biar panas tubuh saya benar-benar keluar dengan atmosfer yang diset sedemikian rupa. Bodrex bekerja, panas tubuh meningkat, keringat keluar semua, dan... pelan-pelan suhu tubuh saya pun mereda.

Kala waktu sahur, saya pun dengan pede tidak mengonsumsi Bodrex. Saya yakin akan sembuh hari itu. Dan, ternyata benar!

Menjelang Jumat, saya dengan sigap ke kamar mandi. Membersihkan badan, lalu berangkat ke masjid buat salat jumat. Meski badan butuh asupan energi, tapi saya tidak merasakan lagi pusing dan panas. Alhamdulillah... Saya sembuh!     

Dua hari, empat tablet Bodrex, sembuh!


***

bRC: Tak Sebatas Manfaat Personal, Tapi Komunal

Manfaat Bodrex, si juara cepat, ternyata tidak hanya dirasakan oleh saya sendiri, tapi juga oleh banyak keluarga di Indonesia.Ini saya ketahui dari penelusuran saya di berbagai blog yang memberikan testimoni atas produk keluaran PT. Tempo Scan Pacific Tbk. ini. Selain itu, perusahaan ini juga menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), salah satunya bertajuk bodrex Reaksi Cepat (bRC).


Bodrex Reaksi Cepat (bRC) ini mulai dijalankan sejak 2006. Secara umum tujuannya untuk memberi pelayanan kesehatan bagi masyarakat khususnya di daerah kumuh, tertinggal, dilanda bencana, serta kondisi ekonomi masyarakatnya masyoritas tergolong tidak mampu. 

Secara garis besar, ruang lingkup kerjam tim bRC dikelompokkan jadi dua, yakni: membantu penanggulangan bencana dengan terjun langsung di lokasi (misal: mendirikan posko kesehatan darurat) dan melakukan beragam kegiatan sosial, semisal operasi hernia, operasi katarak, khitan massal, pengobatan massal, donor darah, pembagian vitamin dan makanan tambahan bagi balita, fogging, penyuluhan kesehatan dan KB, pemeriksaan ibu hamil, dan sebagainya.

Pemeriksaan kesehatan balita, wujud nyata bodrex Reaksi Cepat (Sumber: https://www.facebook.com/AhlinyaAtasiSakitKepala)
 
Pelaksanaan bodrex Reaksi Cepat (Sumber: http://sisicerahkehidupan.wordpress.com)

Contoh nyata pelaksanaan bRC adalah operasi hernia gratis di RS Sentra Medika, Cikarang, pada akhir Mei 2012 yang diikuti oleh warga dari berbagai wilayah di Jabodetabek, Sukabumi, Cianjur, dan Cidaun (Sumber: http://sisicerahkehidupan.wordpress.com/2012/06/20/csr-center-pt-tempo-scan-pacific-tbk-gelar-operasi-hernia-gratis-dan-pengobatan-massal/, diakses pada 22 Juli 2013 pukul 14:42 WIB). Selain itu, dari sumber yang sama juga disebutkan bahwa CSR Center PT Tempo Scan Pacific Tbk juga gelar pengobatan massal di Cipinang Utara dan Cipinang Selatan masing-masing pada 5 Juni 2012 dan 12 Juni 2012.

Lantas, dari mana dana untuk CSR Center di mana bRC bernaung? Ini mungkin memantik pertanyaan bagi awam. Jawabannya adalah dengan menyisihkan sebagian dari hasil penjualan produk-produk keluaran PT Tempo Scan Pacific Tbk, seperti Bodrex, Bodrexin, Hemaviton, Vidoran, dan My Baby. 

Jadi, kalau saya atau Anda membeli dan mengonsumsi produk PT Tempo Scan Pacific Tbk, tidak hanya manfaat sehat yang kita rasakan, tapi juga kita telah ikut berpartisipasi dalam tiap kegiatan sosial yang dihelat oleh CSR Center. Secara tak langsung, kita beramal dengan cara demikian. Tidak berat pastinya, kan? Apalagi di bulan Ramadan ini. 

Itulah sebabnya, saya pribadi pun tidak perlu merasa rugi telah membeli Bodrex. Bagaimana tidak? Allah menganugerahkan saya kesembuhan melalui Bodrex. Saya juga bisa ikut berkontribusi untuk berbagi pada sesama. Entahlah, mungkin tak seberapa banyak dari harga Rp6.500,00 yang saya keluarkan untuk membeli Bodrex. Tapi, saya bahagia bisa menjadi bagian dari bRC secara tidak langsung. 

Saat Gala Dinner Superbrands 2013 (Sumber: http://superbrands.co.id/)

Dan, semua konsumen Bodrex patut berbangga dengan prestasi bRC yang memperoleh Superbrands 2013 CSR Award dari Superbrands Indonesia bekerja sama dengan Grup Tempo Media. Prestasi yang tidak main-main, tentu saja, karena Superbrands adalah arbiter independen terbesar di dunia branding

Harapannya, tentu saja, masyarakat kian mengenal dan merasakan langsung bRC secara lebih luas. Khususnya, masyarakat yang berada di luar Pulau Jawa. Sebab, saya sendiri yang berasal dari Lombok sudah lama mengenal Bodrex melalui lingkup keluarga saya. Namun, mendengar program bodrex Reaksi Cepat (bRC) baru-baru ini. 

Memang tanpa data, saya tentu tidak bisa mengatakan bahwa konsumen di luar daerah lebih banyak daripada di Jawa. Sehingga untuk berani bilang kalau sumbangsih untuk CSR ini, juga pasti besar dari mereka. Jadi, saya berprasangka baik saja bahwa CSR Center pasti telah mengalkulasi dan memikir itu semua dengan jauh lebih matang.

Semoga Bodrex ke depannya jauh lebih membumi dan bermanfaat bagi masyarakat lewat bodrex Reaksi Cepat! Tak ada kata terlambat untuk berbuat baik.

*** 



Selasa, 16 Juli 2013

[Yamaha Mio Music Fest 2013] Musik Sebagai Perekat Aktivitas Menulis dan Jalan-Jalan




(Sumber: http://www.arcane.org)

Saya doyan menulis. Saya juga suka banget jalan-jalan. Saat ini saya sedang menghidupi impian saya menjadi penulis perjalanan (travel writer). Sebagai orang yang sering berkutat di depan laptop atau melakukan perjalanan untuk mencari bahan tulisan, tak ada yang teman yang paling asyik menemani saya kecuali musik. Mengapa?
Sebagai orang yang menenun kata-kata untuk dijadikan tulisan, saya kadang butuh suasana yang privat. Meski saya bisa menulis di tempat yang ramai atau bising, tapi jarang sekali berhasil saya lakukan. Untuk itu, saya lebih suka menulis di tempat yang sepi dan tenang. Jauh dari hingar-bingar yang bisa merusak konsentrasi.
Tetapi, biar tidak kesepian kendati menulis di tempat yang sunyi, saya kerap memutar musik. Klik iTunes, misalnya, lalu saya mainkan daftar lagu kesukaan saya. Saya biasanya memilih lagu-lagu yang bisa membangkitkan mood yang iramanya agak semarak. Biar otak ini bisa ON terus dan jemari bersemangat mengetik.
Jenis musiknya apa? Saya tidak membatasi diri mendengar jenis atau genre musik tertentu. Bisa rock, pop, jazz, RnB, bahkan musik instrumen klasik, macam Beethoven. Asalkan easy listening, saya akan memutarnya. Tapi, sebisa mungkin saya menyetel lagu berbahasa Inggris yang kemungkinan besar tidak saya hafal lirik lagunya. Mengapa? Kalau saya hafal lirik lagunya, saya malah akan ikut bernyanyi dan konsentrasi saya bisa terbelah. Makanya, saya cenderung menikmati musiknya, alih-alih liriknya.
Begitulah, musik bisa jadi peneman saya ketika menulis. Bagaimana jika mood saya kurang bagus? Musik pula yang jadi booster-nya! Saya akan istirahatkan sejenak tubuh saya, sembari mendengar musik yang bisa menenangkan pikiran, iramanya lembut, dan tidak terlalu ramai instrumen. Ketika energi di otak saya telah tersuplai kembali oleh musik yang saya dengar, maka saya pun menulis kembali.
Oya, kadang ketika saya merasa malas menulis, saya juga memutar video musik lho! Tapi, bukan sembarang video musik yang saya mainkan. Tapi, video musik yang ada penyanyi-penyanyi Indonesia yang masih muda tapi bertalenta luar biasa. Misalnya, saya pernah menggebu-gebu semangat menulis dan berkarya hanya gara-gara memutar berkali-kali video musik Sandhy Sandoro dan dua bersaudara Audrey & Gamaliel. 
 
Ketika Sandhy Sandoro bernyanyi di 'New Wave Festival', Latvia, pada 2009

Mengapa dua musisi itu? Sandhy Sandoro kan pernah memenangkan kompetisi bernyanyi di Eropa Timur 'New Wave Festival' pada 2009. Lagu ‘When A Man Loves A Woman’ milik Michael Bolton yang mengantarkannya menjadi juara itu benar-benar membakar semangat saya. Bukan hanya karena suara seraknya yang gahar dan mampu menggelegarkan panggung spektakuler yang bergengsi itu. Tapi, juga ia bisa membuktikan bahwa sebagai penyanyi Indonesia, ia bisa unjuk gigi di luar negeri dan menjadi pemenang. Nah, spirit juangnya itulah yang saya tiru, bahwa ia masih muda, punya talenta luar biasa, dan bisa jadi jawara. Kalau Sandhy Sandoro bisa memberikan teladan dan konsistensi yang hebat di bidang musik, saya pun seharusnya bisa di bidang menulis! 

Audrey & Gamaliel di panggung Harmoni SCTV 


Bagaimana dengan Audrey & Gamaliel? Dua bersaudara yang kini bergabung dalam trio Gamaliel, Audrey, & Cantika itu, membuat saya yang masih muda ini juga merasa terbakar. Mereka masih muda, tak bosan aktualisasi diri lewat Youtube, menghibur penonton dunia maya, dan akhirnya naik ke atas panggung Harmoni di SCTV. Saya melihat mereka berdua, tak henti-hentinya saya iri. Iri yang saya kelola jadi energi positif. Mereka bisa demikian di jalur musik, maka saya pun harusnya bisa sehebat mereka di jalur menulis!
Oke, selain musik sebagai peneman dan pembangkit energi saya ketika menulis, musik juga peneman setia saya ketika melakukan perjalanan (traveling). Bagaimana tidak? Kadang ketika melakukan perjalanan panjang dengan bus atau kereta, jika sudah merasa cukup puas memandang keluar jendela atau bercakap-cakap dengan penumpang lainnya, maka musik bisa jadi pelarian. Musik jadi peninabobo saya. Pengantar tidur. Bahkan, pada sesi-sesi perjalanan tertentu, ada musik yang menjadi soundtrack perjalanan saya. Ketika traveling ke Lombok tahun 2011, bisa-bisanya Someone Like You-nya Adele menjadi soundtrack perjalanan saya dan teman-teman. Kok bisa? Iya, selain karena sedang jadi hit juga karena suasananya memang sedikit galau...
Juga, ketika sedang mendengar lagu yang dinyanyikan Ipang yang berjudul Apatis, saya pun bisa jadi merasa optimis memandang hidup. Optimis untuk melakukan perjalanan. Optimis untuk meraih impian-impian. Begitu pula ketika mendengar lagu-lagunya Anggun yang berkarakter kuat, tangguh, dan kadang mampu mengamplas emosi.
Lebih-lebih, saya pun termasuk suka menyanyi. Paling tidak di kamar mandi. Hebatnya adalah, ketika saya menyanyi, saya bisa melepaskan stres. Ide-ide menulis pun hadir deras seiring dengan guyuran air yang jatuh di kepala saya. Sehingga, acap kali saya pengin cepat-cepat keluar dari kamar mandi dan menuangkan segera ide yang berkelabatan di otak saya.
See? Sudah jelas kan kalau musik begitu berdampak positif buat saya. Musik tidak hanya bisa mengasah kepekaan, menyuntikkan semangat, mengatur emosi, tapi juga bisa bikin kegiatan menulis saya jauh lebih hidup.
Makanya, ketika saya tahu ada Yamaha Mio Music Fest yang merupakan kompetisi musik anak muda terbesar se-Jatim, saya mendukung sekali. Itu bisa menjadi ajang yang positif bagi anak muda yang sedang butuh aktualisasi. Anak muda yang berenergi besar dan butuh penyaluran. Saya kira musik bisa jadi jawabannya.
Jika Sandhy Sandoro, Audrey & Gamaliel, juga saya bisa merasakan manfaat musik yang begitu besarnya, saya yakin anak muda yang lain pun begitu. Lewat Yamaha Mio Music Fest, salah satunya.
Ayo, dukung anak muda Indonesia untuk bermusik dan berkarya!

Kamis, 05 Mei 2011

Jalan Kaki, Nak!

Medio 2006

Malang adalah kota pertama di Pulau Jawa yang saya pijaki. Berbekal pengetahuan yang minim akan Kota Dingin itu, saya dan tiga teman lainnya naik bus dari Lombok dengan satu tujuan: melanjutkan pendidikan.

Agak berbeda dengan ketiga teman lainnya yang berhasil masuk perguruan tinggi negeri, saya yang tidak lulus SPMB memilih masuk di Wearnes Education Center, semacam lembaga pendidikan komputer. Lama pendidikannya hanya 1 tahun. Itu sudah termasuk magang.

Sebelumnya, saya tidak pernah bermimpi kuliah di Malang sebagaimana berharap kuliah di Surabaya saat ini. Kampus impian saya tetaplah Universitas Indonesia dengan jurusan idaman, Hubungan Internasional. Sayang sekali, saya lalai belajar. Selepas hasil UN diumumkan, saya pun berkubang dalam euforia. Terlalu abai pada tingkat kesulitan soal-soal SPMB. Saya tidak ambil bimbel. Saya sibuk bermain.

Dan, kegagalan itu benar-benar menohok. Menancap kuat, kawan!

Namun, menganggur menunggu SPMB tahun berikutnya bukanlah pilihan tepat. Saya ingin kuliah, begitu tekad saya. Dan, di sinilah saya sekarang. Saya tak perlu menyesalinya. Saya harus keras pada diri sendiri. Jika tidak demikian, hidup yang sudah dan makin keras ini akan menggilas saya.

Malang. Di sinilah saya berada sekarang. Memulai hari-hari yang penuh adaptasi. Dengan cuaca, makanan, orang-orang, budaya, hingga suasana lingkungan berbeda. Sebagai anak yang selama 18 tahun tak pernah keluar ‘sarang’, rasa kangen benar-benar menyiksa. Meninggalkan zona nyaman membuat saya megap-megap laiknya mas koki yang kehabisan aqua. Ini risiko. Saya tak boleh lembek.

Berhubung saya tidak dibekali kendaraan berupa sepeda motor, mencari kos yang dekat dengan kampus adalah keharusan. Dibantu oleh ketiga teman saya itulah, akhirnya sebuah kamar kos di Jalan Pekalongan Dalam saya dapatkan. Jaraknya tidak jauh dari kampus saya di Jalan Jakarta. Cukup berjalan kaki lima menit saja.

Selama setahun saya berjalan kaki dari kos ke kampus. Selama itu pula, tiap kali ke mana-mana, saya memilih jalan kaki. Ke Togamas di Dieng, saya jalan kaki. Ke Malang Town Square (Matos), saya jalan kaki. Mengunjungi teman-teman saya di daerah sekitar Brawijaya dengan jalan kaki, kadang len.

Saya pernah protes sekaligus meminta pada bapak agar dikirimkan sepeda motor. Namun, bapak tetap tidak mengizinkan dan berkilah kalau “Jawa” itu macet, sering terjadi kecelakaan. Juga, bercermin pada pengalaman kakak saya yang diberikan motor justru membuatnya lebih sering kelayapan dan kuliahnya amburadul. “Nanti kalau bapak kasih motor, Fatah sering keluar main dan nggak belajar.” Baik, saya mencoba untuk memahami kekecewaan bapak. Tak ada salahnya patuh pada orang tua.



Medio 2007

Saya hijrah ke Surabaya. Masuk jurusan idaman saya, meski bukan perguruan tinggi impian.

Lagi-lagi saya harus beradaptasi. Cuaca yang berbeda dengan Malang, orang-orang yang bertemperamen keras (maklum dekat pesisir), dan kehidupan kampus yang benar-benar membuat saya sedikit gegar. Persentuhan awal dengan kuliah pun membuat saya sempat merasa salah ambil jurusan. Gegar. Gegar. Gegar.

“Cari kos di dekat kampus. Biar hemat.” Begitu saran bapak. Saya memaklumi. Apalagi biaya hidup di kota besar memang terbilang mahal. Hingga memunculkan hobi baru pada diri saya: membanding-bandingkan harga makanan dan harga kos. Alam bawah sadar saya pun memaksa untuk lebih selektif dan tetap menjunjung tinggi prinsip ekonomi.

Jarak antara kos dan kampus saya memang dekat. Tak sampai tujuh menit berjalan kaki. Meski cuaca Surabaya yang panas seringkali membuat saya mengeluh. Hingga permohonan pada bapak agar dikirimkan motor pun kerap saya layangkan. Setidaknya, saya bisa mempercepat waktu sehingga tidak kepanasan di jalan. Atau kalau pergi ke CCCL untuk kuliah bahasa Perancis, saya tidak perlu naik angkot yang rutenya memutar jauh itu. Atau kalau ingin pergi cari hiburan atau jalan-jalan ke mal, saya tak perlu memilih diam di kos karena belum mengerti jalur angkot.

Susah kalau tidak ada motor, keluh saya.

Bapak lebih kuat lagi berargumen, “Apalagi di Surabaya, Nak. Lebih parah lagi macetnya. Kendaraan berseliweran. Fatah sering ngantuk kalau berkendaraan. Bisa kecelakaan. Di sana juga pasti rawan curanmor.”

Baik, alasan keamanan motor dan keselamatan berkendaraan memang cukup masuk akal. Tapi, bapak terlalu mengada-ada kalau saya suka ngantuk saat sedang bermotor. Itu lelucon beliau yang selalu saya sangkal.

Memang, sejak ibu tiada, saya berusaha untuk selalu mendengarkan petuah bapak. Untuk urusan ini pun, saya mengalah.

Jalan kaki dari kos ke kampus tetap saya jabani. Kalau ke CCCL, sering kali menumpang di mobil teman. Kalau tidak ada booking­-an, terpaksa naik angkot.

Cuaca Surabaya pun mendukung saya untuk lebih banyak mendekam di kampus atau perpustakaan. Malamnya, di kos saja. Kos yang gerah karena belum ada kipas angin. Kalau tidak, main ke rental buku. Untung lokasinya dekat. Tak terelakkan lagi, kudu jalan kaki.


Akhir 2007

Saya pindah ke Gubeng Jaya, sebelah baratnya kampus. Kos yang lebih nyaman. Tidak segaduh dan se-me-ngantre-panjang kamar mandi kos yang lama.


Oktober 2009

Kali ini saya dan lima teman sejurusan sepakat untuk mengontrak rumah. Kembali saya memboyong barang-barang ke Jojoran Baru.

Lokasinya lebih jauh dari kampus. Tapi, status saya masih sama: mahasiswa pejalan kaki. Kali ini butuh lima belas menit untuk sampai di kampus. Itu dengan ritme jalan kaki yang santai. Bakalan cepat lima menit saat Surabaya sedang ‘genit-genit’nya (baca: panas membara).

Uh, bapak benar-benar berkeras hati untuk tidak mengizinkan saya membawa sepeda motor.

Ah, sudahlah!


Januari 2010


Saya membuat blog baru yang beralamat di www.walkpacking.blogspot.com. Silakan Anda tebak isinya, apa.


Februari 2010

Saya dan lima teman ke Jogja dalam rangka backpacking selama 4 hari. Jalan kaki dari Stasiun Lempuyangan ke hostel di sebelah selatan alun-alun. Menyeret kaki dari selatan ke utara melalui trotoar, lorong kampung, melintasi alun-alun, mencari hostel baru dekat Malioboro. Bolak-balik sepanjang Malioboro. Masuk satu toko ke toko lainnya. Juga jalan-jalan seputaran Prambanan.

Penat, itu sudah pasti. Apalagi kami banyak jalan kakinya. Hingga di salah satu episode perjalanan, teman saya memutuskan untuk naik becak saja. Kapok dia diajak jalan kaki terus oleh saya.


September 2010

Tujuh hari saya ‘mbambung’ di luar rumah. Tanpa sedetik pun ada kontak dengan bapak, meski sekadar sms atau telepon.

Ini menjadi jalan kaki saya yang paling intens seumur hidup. Dengan satu impian yang terus berpijar di depan saya. Menulis buku.

Hingga setiba di rumah dengan kulit cokelat terbakar dan bobot tubuh yang menyusut, bapak bilang, “Bapak sengaja tidak menghubungi Fatah biar konsen pada perjalanannya.”


Februari 2011

Impian yang telah saya pendam selama enam tahun tercapai juga. Lahirlah ‘Travelicious Lombok’. Buku yang merekam perjalanan saya keliling Lombok dengan bujet yang betul-betul mengikat pinggang. Tujuh hari hanya Rp600 ribuan.

Apa rahasianya?

Saya lebih banyak jalan kaki.

Dan, di momen itulah, ucapan-ucapan bapak berputar kembali di kepala saya.

“Nanti kalau bapak kasih motor, Fatah sering keluar main dan nggak belajar.”

“Cari kos di dekat kampus. Biar hemat.”

“Apalagi di Surabaya, Nak. Lebih parah lagi macetnya. Kendaraan berseliweran. Fatah sering ngantuk kalau berkendaraan. Bisa kecelakaan. Di sana juga pasti rawan curanmor.”

“Bapak sengaja tidak menghubungi Fatah biar konsen pada perjalanannya.”

Ya, bapak telah menggembleng saya. Bapak telah mengajarkan saya banyak hal. Bapak telah membantu mewujudkan salah satu mimpi terbesar saya.

Dengan caranya sendiri.


N.B: Tulisan ini saya ikutkan lomba menulis blog di multiply bertema 'Hikmah' yang diadakan oleh Oji. Alhamdulillah, berhasil menjadi juara 2.

Senin, 28 Maret 2011

Jalan Kaki 5 Kilometer




Lama juga saya tidak memperbarui isi blog ini. Setelah berkutat dan larut dalam euforia atas terbitnya buku saya 'Travelicious Lombok' (B-First, Februari 2011), jeratan kemalasan, dan bermain-main di dua jejaring sosial dan blog di multiply, maka baru sekaranglah saya terpikir untuk mengisi 'bensin kendaraan maya' saya ini.

Apalagi beberapa jam yang lalu, saya tersesat di belantara blog para travel writer. Sebut saja, Agustinus Wibowo, Trinity, Hifatlobrain, Matatita, dan Dwi Putri Ratnasari. Mau nggak mau saya 'terbakar' juga untuk tidak lama-lama membiarkan blog saya kering-kerontang.

Dan, saya ingin sedikit berbagi penggalan dari buku 'Travelicious Lombok'. Tentu saja, karena masih relevan dengan tema blog ini: jalan kaki. So, here we go!


Menyiksa diri? Bisa jadi. Padahal sebenarnya saya bisa naik ojek dengan membayar Rp8.000,00 dari Ancak, Karang Bajo, menuju Senaru. Senaru adalah tujuan saya berikutnya. Saya ingin menikmati sore di Air Terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep yang berada di situ.

Jam di hp saya menunjukkan pukul 13.26. Setelah puas menjepret, saya keluar dari area Masjid Kuno Bayan Beleq dan berjalan kaki ke pertigaan Ancak. Di situ ada pangkalan ojek. Ada masjid juga. Saya hendak menunaikan shalat zuhur dulu.

Saya pikir jarak 5 kilometer tidaklah jauh. Dengan bermodal pengalaman sering jalan kaki dari kontrakan ke kampus yang hanya memakan waktu 15 menit, saya pun nekat berjalan kaki menuju Senaru. Andai saya tahu medannya seperti apa, pasti saya akan memilih naik ojek. Mengapa? Jalanan dari Ancak ke Senaru berliku-liku dan banyak tanjakannya. Dengan ransel di punggung dan sandal crocs biru yang sudah aus alasnya, saya terpaksa berhenti dan istirahat beberapa kali. Saya tidak mau patah semangat hanya gara-gara kecapekan dan jalan sendirian. Untuk mengalihkan rasa lelah, saya menangkap sebanyak-banyaknya pemandangan di sisi kiri dan kanan saya. Baik itu dengan lensa mata maupun lensa kamera.

Hamparan sawah dan pohon-pohon di bawah saya cukup ampuh menyegarkan mata. Saya juga bertemu dengan seorang ibu yang sedang membakar pepes ikan di bawah bangunan sederhana pinggir jalan. Ketika saya tanya harganya berapa, saya menganga kaget.
Harganya cuma seribu Rupiah! Pepes ikan berukuran cukup besar… di daerah ketinggian seperti ini? Wow! Karena ibu itu tidak sekalian menjual nasi, maka saya pun mengurungkan niat untuk membeli pepes ikannya. Padahal saya ingin sekali mencobanya. Air liur saya menetes…

Saya terus berjalan kaki melewati rumah-rumah penduduk yang masih jarang. Kebun-kebun jambu mete yang ranum berbuah juga saya lintasi. Hingga saya melihat beberapa bocah perempuan dan seorang anak laki-laki di sebuah dangau pinggir jalan. Seorang perempuan dewasa terlihat menggalah jambu mete. Bagai sudah ditentukan, kaki saya merangsek ke arah mereka dan meminta izin duduk di situ melepaskan lelah.

Anak laki-laki kelas dua SMP 3 Bayan itu bernama Rismayadi. Ia bersama lima adiknya menunggui ibu mereka yang sedang merontokkan jambu mete dengan galah. Saya ngobrol-ngobrol dengan Rismayadi. Wajah adik-adiknya terlihat antusias menyimak. Wajah-wajah yang polos dan penuh keceriaan. Terlebih ketika saya memotret mereka. Seolah-olah siap, mereka pun memasang pose yang polos dan manis.

Saya edarkan pandangan ke sekeliling. Melihat buah jambu mete yang berserakan dan “Memang jarang kami makan,” ujar Rismayadi, saya pun meminta izin agar dibolehkan mencicipi jambu mete alias jambu monyet itu. Rismayadi mengiyakan dan langsung memanjat pohon jambu mete. Saya dipilihkan dua buah yang berwarna kuning. “Lebih manis daripada yang warna merah,” jelasnya. Dengan wajah penuh syukur, saya pun menikmati segarnya jambu mete tersebut. Satunya lagi saya selipkan di ransel. Sebagai bekal di jalan, hibur saya dalam hati.

Selain mengucapkan terima kasih, saya pun mengajak mereka berenam untuk berfoto-foto. Tak lupa saya tunjukkan jambu mete tersebut di depan kamera.
Memandang senyum lugu dan binar keceriaan yang tergambar di wajah mereka, membuat semangat saya terpompa kembali. Bahkan, ketika sudah berjalan beberapa meter meninggalkan mereka, saya masih terus menengok ke belakang. Mereka memanggil dan melambai-lambaikan tangan pada saya. Sungguh mengesankan! Membuat saya merenung akan kebaikan hati manusia dan tentu saja kebaikan Tuhan…

Kamis, 13 Januari 2011

Telusuri Rel Kereta Api




Rel.
Jalur kereta api.
Menelusurinya menyimpan kenangan tersendiri. Sebab, pernah aku lakoni sewaktu pulang dari Wonokromo ke kosku di Gubeng Jaya. Jauh??? Lumayan. Tak hitungku kilometernya. Yang pasti, bagi arek Suroboyo, bisalah membayangkan jauhnya.

Sebab apa aku jalan kaki di atas rel? Iseng belaka dan coba-coba. Padahal aku bisa naik angkot, tapi entah kenapa ide menelusuri rel terkesan oke. Ya, aku masih muda dan suka mencoba hal-hal baru.

Saat itu, sehabis keluar dari rumah seorang teman di Wonokromo, aku niat jalan kaki ke Terminal Joyoboyo. *Intermezo: di terminal inilah grup musik Klantink - pemenang Indonesia Mencari Bakat - mengawali kesuksesan mereka sebagai pengamen* Sampai di sana, angkot belum ada yang hendak berangkat. Mumpung masih pagi, udara Surabaya masih bersahabat, matahari juga belum terik, aku pun memutuskan meninggalkan terminal dan mulai berjalan kaki ke arah Kebun Binatang. Menyeberangi jembatan di atasnya dan 'mengukur' trotoar ke arah Taman Bungkul. Dengan mengandalkan insting, aku pun sengaja menyesatkan diri di gang-gang kecil dengan patokan bahwa aku akan menemukan CCCL. Benar!!!

Menyeberangi jembatan di atas Kali Darmo, terus berjalan ke timur hingga bertemu rel kereta api melintangi jalan raya. Impulsivitas pun mencuat. Ambil kiri, susuri rel kereta api.

Aku coba berjalan di tepian rel berbahan baja hitam. Belajar keseimbangan. Sesekali terpeleset ke kerikil. Kembali menahan keseimbangan. Tentu saja, dibarengi dengan berpikir, merenung. Hingga tecetus, aku bisa sampai di kota-kota lainnya dengan jalan kaki menelusuri rel. Entahlah, aku belum berniat untuk menjalaninya. Terbayang kaki ini akan gempor hanya untuk berjalan kaki dari Surabaya ke Malang. Malang, kota yang paling sering kudatangi dengan berkereta ekonomi.

Apa yang menarik berjalan di atas rel? Yang pasti, berbeda dengan jalan kaki di jalan raya, di trotoar, atau di jalan-jalan tikus tengah kampung. Apalagi rata-rata jalannya datar saja dengan aspal mulus atau semen atau paving block. Berjalan di rel kereta itu seakan kita berakrobat. That's life. Kita belajar meniti baja rel dengan penuh kesadaran arti pentingnya keseimbangan. Bahwa, sekali kita tergelincir, telapak kaki akan menjejak di serakan kerikil. Sakit. Ada dua sisi yang berdekatan satu sama lain. Yang satunya menyimpan harapan akan perjalanan yang mulus. Satunya lagi sebagai pengingat bahwa marabahaya atau kesusahan itu selalu ada. Kerikil mewakilinya.

Setelah rel kereta, entah apa lagi jalur beda yang akan coba kujajaki? Ada ide?


*Foto dikereta-apikan dari www.freefoto.com